Brian Massumi: Otonomi Afek (Bagian 2 dari 2)

Satu cara untuk memikirkan ulang tentang afek afalh umpan balik atom-atom dari moda organisasi yang „lebih tinggi“ ke level kemunculan (emergence).[i] Filosof sains Gilbert Simondon melihat pemfungsian ini bahkan di level fisik, di mana „kuman-kuman“ bentuk  hadir di dimensi yang sedang muncul (emergent) seiring dengan unusr-unsur nirbentuk seperti tropisme (atraktor), distribusi energi potensial (gradien yang mendefinisikan metastabilitas), dan relasi yang tidak dilokalkan (resonasi). Menurut Simondon, dimensi emergent – yang ia istilahkan dengan „praindividual“ tidak dapat dipahami sebagai bentuk, meskipun ia juga melipat ke dalam bentuk-bentuk dalam kondisi benih. Ia hanya bisa dianalisa sebagai medan (field) yang kontinu namun sangat terdiferensiasi yang „tidak berada di fase“ (out of phase) yang sama dengan entitas berbentuk (yang punya topologi dan tatanan kausal yang berbeda dengan „individual“ yang muncul darinya dan yang bentuknya kembali padanya)[ii].   Read More

j j j

Jean-Luc Nancy: Kata, Komunisme

Bukan kata sebelum pengertiannya, melainkan kata sebagai pengertian dan agen historis.

“Komunisme” adalah kata dengan cerita yang aneh. Sangatlah sulit untuk melacak asal mulanya dengan ketat. Akan tetapi, jelas bahwa kata “komunis” sudah ada sejak abad  XIV, yang berarti “orang yang memiliki bersama-sama suatu properti yang masuk ke kategori main morte –yakni, yang tidak masuk ke hukum waris”: suatu biara adalah kepunyaan satu komunitas Biarawan, yang, sebagai komunitas, mandiri dari individu-individu. Tampaknya bahwa pada saat yang sama atau bahkan sebelumnya, sejak abad ke-XII, kata yang sama digunakan untuk menunjuk beberapa aspek hukum komunal dan terkait dengan gerakan komunal yang meluas pada awal borjuasi. Read More

j j j