Brian Massumi: Otonomi Afek (Bagian 2 dari 2)

Satu cara untuk memikirkan ulang tentang afek afalh umpan balik atom-atom dari moda organisasi yang „lebih tinggi“ ke level kemunculan (emergence).[i] Filosof sains Gilbert Simondon melihat pemfungsian ini bahkan di level fisik, di mana „kuman-kuman“ bentuk  hadir di dimensi yang sedang muncul (emergent) seiring dengan unusr-unsur nirbentuk seperti tropisme (atraktor), distribusi energi potensial (gradien yang mendefinisikan metastabilitas), dan relasi yang tidak dilokalkan (resonasi). Menurut Simondon, dimensi emergent – yang ia istilahkan dengan „praindividual“ tidak dapat dipahami sebagai bentuk, meskipun ia juga melipat ke dalam bentuk-bentuk dalam kondisi benih. Ia hanya bisa dianalisa sebagai medan (field) yang kontinu namun sangat terdiferensiasi yang „tidak berada di fase“ (out of phase) yang sama dengan entitas berbentuk (yang punya topologi dan tatanan kausal yang berbeda dengan „individual“ yang muncul darinya dan yang bentuknya kembali padanya)[ii].  Bentuk yang benih atau „implisit“ tidak dapat dipahami sebagai bentuk atau struktur. Ia lebih merupakan sebundel fungsi potensial yang dilokalkan,  sebagai daerah yang terdiferensiasi, dalam medan potensi yang lebih besar. Di tiap daerah satu bentuk dan struktur mulai mengambil bentuk,  tapi dengan segera terurai  seiring dengan perubahan daerah-daerahnya dalam ketegangan relasinya  dengan yang lain. Ada semacam gelegak strukturasi dalam sup daerah yang bergolak , daerah yang juga tersusun dari  pusaran potensi ini. Daerah-daerah ini dipisahkan satu sama lain oleh ambang-ambang yang dinamis ketimbang oleh batasan. Simondon menyebut daerah ini sebagai „kuanta“ potensial bahkan jika mereka hanya muncul di level makrofisik dan level manusia- dan itulah sebab alusi atomik.[iii] „Daerah-daerah“ ini abstrak sekaligus aktual, dalam arti bahwa mereka tidak menegaskan ruang-ruang yang dibatasi melainkan suatu diferensiasi bergerak dalam satu medan terbuka yang dicirikan  oleh aksi unsur-unsur  (atraktor, gradien, resonasi) pada jarak tertentu. Batasan dari daerah dan seluruh medan (semesta) dijelaskan oleh jangkauan aksi kolektif unsur-unsurnya di suatu jarak. Batasan ini tidak akan merupakan demarkasi tegas  tapi lebih berupa  pemudaran banyak dimensi ke tanpa batas. Medan terbuka dalam pengertian ia tak punya interioritas dan eksterioritas: ia terbatas dan tanpa batas.

Bentuk „implisit“ adalah membundelnya fungsi-fungsi potensial, pelipatan ke dalam atau kontraksi dari interaksi (ketegangan) potensial.  Dimainkannya potensi-potensi ini membutuhkan penyingkapan (unfolding) di ruang tri-matra dan waktu linear-ekstensi sebagai aktualisasi, aktualisasi sebagai ekspresi. Dalam ekspresilah pemudaran terjadi. Batas dari medan kemunculan adalah dalam ekspresi aktualnya. Bentuk implisit dapat dianggap sebagai kehadiran efektif dari total jumlah dari interaksi suatu hal minus hal itu. Ia adalah relasionalitas suatu hal yang diotonomisasikan sebagai satu dimensi riil. Otonomisasi relasi ini adalah menjadi prasyarat bagi umpan balik fungsi-fungsi „yang lebih tinggi“. Sekali lagi kemunculan adalah dua sisi mata uang: sisi satu adalah yang virtual (otonomi relasi) dan sisi lainnya yang aktual (batasan fungsional). Apa yang disebut afek dalam esai ini adalah tepat kedua-sisian ini, partisipasi simultan dari virtual dalam yang aktual dan yang aktual dalam yang virtual, ketika yang satu muncul dari dan kembali ke yang lain. Afek adalah kedua-sisian ini sebagaimana tampak di sisi hal yang aktual, sebagaimana dilandasi dalam persepsi dan kognisinya.  Afek adalah yang virtual sebagai sudut pandang, mengingat bahwa metafora visual digunakan dengan berhati-hati. Karena afek adalah sinestetik, menyiratkan partisipasi indera-indera dalam satu sama lain: ukuran dari potensi interaksi mahluk hidup adalah dalam kemampuannya mengubah efek-efek dari satu moda sensorik ke moda sensorik lainnya. (Daya raba dan penglihatan adalah yang paling kentara namun bukan berarti hanya itu contohnya;  indera interoseptif (dalam tubuh. Pen), terutama propriokonsepsi (persepsi atas lingkungan. Pen) adalah vital.)[iv] Afek merupakan persepektif-perspektif sinestetik virtual yang terikat pada (dan secara fungsional dibatasi oleh) hal-hal partikular yang secara aktual menubuhkannya. Otonomi afek adalah partisipasinya dalam yang virtual. Otonominya adalah keterbukaannya. Afek otonom sampai ke derajat  bahwa ia lolos dari jebakan tubuh tertentu yang vitalitasnya, atau potensialnya bagi interaksi, adalah dirinya. Persepsi dan kognisi yang terbentuk,  terkualifikasi, terkondisikan  yang memenuhi fungsinya dalam menghubungkan atau menghalangi secara aktual merupakan penawanan (capture) dan penutupan (closure)  afek. Emosi adalah ekpresi paling intens (dan terkontraksi) dari penawanan tersebut- dan dari fakta bahwa sesuatu selalu dan lagi-lagi lolos. Sesuatu tetap tak teraktualkan, tak terpisahkan dari,  tapi juga tidak dapat diasimilasikan ke perspektif partikular yang secara fungsional terkait mana pun. Itulah mengapa emosi sedikit banyak menyebabkan disorientasi, dan mengapa ia secara klasik digambarkan sebagai berada di luar diri seseorang, tepat di titik mana seseorang itu secara paling intim dan tidak dapat terbagikan berada dalam kontak dengan dirinya sendiri dan vitalitasnya sendiri. Jika tidak ada pelarian, tidak ada ekses atau sisa, tidak ada pemudaran ke nirbatas, semesta akan menjadi tanpa potensi, entropi murni, kematian. Hal-hal yang secara aktual hidup dan terstruktur hidup dalam dan melalui apa yang lolos darinya. Otonominya adalah otonomi afek.

Lolosnya afek tidak bisa tidak dipersepsi, seiring dengan  persepsi yang menjadi penangkapannya.  Persepsi-samping ini bisa jadi  tepat waktu (punctual), terlokalisasi dalam suatu peristiwa (seperti terealisasinya kegembiraan dan kesedihan adalah sesuatu selain dari apa mereka sesungguhnya). Ketika ia tepat waktu biasanya ia digambarkan dengan istilah negatif, tipikalnya sebagai sebentuk shock (interupsi tiba-tiba dari fungsi-fungsi hubungan aktual).[v] Tapi ia juga berkesinambungan, seperti persepsi latar belakang yang menyertai setiap peristiwa, seberapa pun sepele. Ketika kontinuitas pelarian afektif diucapkan dalam kata, ia cenderung berupa konotasi positif.  Karena ia tidak kurang dari persepsi orang atas vitalitasnya, perasaan orang akan betapa hidupnya (sense of aliveness) ia, tentang daya perubahan (seringkali dimaknai sebagai „kemerdekaan“. „Perasaan akan betapa hidupnya seseorang adalah kontinu, persepsi diri nirsadar (refleksi diri tak sadar atau referensialitas diri yang dihidupi). Persepsi tentang persepsi-diri inilah, penamaannya dan dibuat sadar, inilah yang memungkinkan afek untuk dianalisa secara efektif- selama satu kosa kata dapat ditemukan untuk ia yang tak terpersepsikan tapi yang pelariannya dari persepsi tidak dapat dipersepsikan, selama orang itu hidup.[vi]

Simondon mencatat hubungan antara refleksi-diri dan afek. Bahkan ia menarik kapasitas refleksi diri ke semua mahluk yang hidup- meskipun sulit juga untuk memahami mengapa ia tidak sekalian menariknya ke semua hal, baik yang hidup maupun tidak.[vii] (Bukankah resonasi sejenis refleksi-diri?) Spinoza bisa dikatakan melakukan ini dalam menjelaskan gagasannya tentang afeksi sebagai jejak-yang tidak tanpa getaran (reverberations). Lebih radikal lagi ia menganggap gagasan  mendapatkan ekspresinya yang paling sesuai (paling menata-diri) bukan dalam diri kita melainkan dalam „pikiran“ Tuhan. Tapi ia menjelaskan Tuhan sebagai Alam (dipahami sebagai meliputi yang manusia, yang buatan, dan yang diciptakan). Deleuze bersedia mengambil langkah menyisihkan Tuhan. Satu hal yang sangat membedakan filsafatnya dengan filsuf sezamannya adalah pengertian bahwa idealitas itu adalah satu dimensi materi (yang juga dipahami meliputi yang manusia, yang buatan, dan yang diciptakan).[viii]

Perbedaan antara yang hidup dan nirhidup, yang biologis dan yang fisik, adalah bukan soal hadir tidaknya refleksi, tapi kelangsungannya. Otak dan sistem syaraf kita mempengaruhi otonomisasi relasi tersebut, dalam satu interval yang lebih kecil dari yang terkecil yang bisa dipersepsikan, meskipun operasi ini muncul dari persepsi dan kembali padanya. Dalam organisme yang lebih primitif, otonomisasi ini dicapai lewat jaringan resepsi-indera interoseptif dan eksteroseptif seluas organisme itu sendiri yang impulsnya tidak terpusat di otak. Orang bisa mengatakan bahwa ubur-ubur adalah otaknya itu sendiri. Di semua mahluk hidup, otonomisasi relasinya dipengaruhi oleh pusat indeterminasi (fungsi resonasi seluas organisme yang dilokalisasi yang mendelinearkan kausalitas demi melinearkannya kembali dengan perubahan arah:dari resepsi ke reaksi). Di tingkat fisik paling dasar, mediasi itu tidak terjadi.[ix] Tempat dari nirmediasi fisik antara yang virtual dan aktual ditelisik oleh mekanika kuantum. Seiring dengan diumpan-balikkannya fungsi-fungsi „yang lebih tinggi“- sampai ke tingkat subatomik (yakni, posisi dan momentum)- indeterminasi kuantum diumpan-maju. Ia muncul melalui pencabangan-pencabangan fraktal yang mengarah pada dan antara tingkat-tingkat realitas yang disuperposisikan. Di tiap tingkat, ia tampak dalam moda unik yang sesuai dengan tingkat tersebut. Di tingkat sistem makro fisik yang dianalisa oleh Simondon, modanya adalah energi potensialnya dan marjin „permainan“ yang dikenalkannya ke dalam sistem-sistem yang deterministik (yang disimbolkan oleh „problem tiga-tubuh“ yang begitu dimanjakan oleh teori khaos). Di tingkat biologis, adalah marjin ketidakpastian yang menyertai setiap persepsi, yang menyatu dengan daya tular persepsi dari satu indera ke indera lainnya. Di tingkat manusia, ketidakpastian yang sama diumpan-maju ke dalam pikiran, sebagaimana terbukti dalam daya dekonstruktif dari setiap struktur gagasan (sebagaimana dinyatakan, misal, dalam teorema ketidaklengkapan-nya Gödel dan differance-nya Derrida). Masing-masing tingkat individu dan kolektif manusia punya moda „kuantum“ uniknya tersendiri, berbagai bentuk ketidakpastian dalam sistem logis dan pemaknaan diikuti oleh emosi di tingkat psikologis, resistensi di tingkat politis, hantu krisisi yang menggentayangi ekonomi-ekonomi kapitalis, dan seterusnya.  Moda-mada ini diumpan-balik dan diumpan-maju ke dalam satu sama lain, saling menggemakan satu sama lain dan semua.

Penggunaan konsep kuantum di luar mekanika kuantum, bahkan diterapkan dalam psikologi manusia, bukanlah metafora. Bagi setiap tingkat, perlu ditemukan konsep operatif untuk ketidakpastian obyektif yang menggemakan apa yang di tingkat subatomik dinamakan kuantum.  Hal ini dilakukan dengan menganalisa semua formasi sebagai sedang berpartisipasi dalam apa yang disebut David Bohm implicate order (tatanan implikasi) yang memotong  semua tingkat dan mengganda di masing-masing tingkat.[x]Afek adalah istilah yang dapat menjelaskan dengan baik tentang antarmuka antara tatanan implikasi dan eksplikasi.[xi] Kembali ke perbedaan antara yang fisik dan biologis, jelas bahwa tidak ada garis pemisah yang tegas antara keduanya, maupun di antara mereka dan yang manusia. Afek, seperti juga pikiran dan refleksi,  dapat dilanjutkan  ke tiap ataupun semua tingkat, dengan mempertimbangkan keunikan fungsinya di tingkat tersebut. Perbedaan antara yang mati, yang hidup dan yang manusia bukanlah soal bentuk ataupun struktur, maupun ciri-ciri yang dipunyai  pengejawantahan bentuk atau struktur, atau juga bukan fungsi-fungsi kualifikasi yang ditampakkan oleh pengejawantahan tersebut (yakni kegunaan dan kemampuannya untuk melakukan kerja). Pembedaan antara jenis-jenis hal dan tingkat-tingkat realitas adalah soal derajat:  soal cara di mana moda-moda penataan (seperti refleksi) secara diferensial hadir di semua tingkat, kecuali di kutub-kutub ekstrimnya. Kutub-kutub ekstrim ini adalah  yang kuantum fisik dan yang manusia, sejauh ia  merindukan atau mencampuradukkan dirinya dengan yang ilahiah (yang berlangsung ketika pengertian tentang keabadian, identitas, dan esensi beroperasi). Tidak ada ekstrim manapun yang dapat dikatakan ada, walaupun masing-masing dapat dikatakan nyata dengan cara yang sama sekali berbeda: yang kuantum memproduksi realitas efektif, dan yang ilahiah diproduksi secara efektif  sebagai suatu fiksi. Di antaranya terbentang satu kontinuum eksistensi yang terdiferensiasi ke tingkat-tingkat, atau kawasan-kawasan potensial, yang tidak ada batasan di antaranya, hanya ambang-ambang dinamis.

Seperti yang dicatat Simondon, semua ini menyulitkan pembicaraan tentang transendensi atau imanensi.[xii] Apapun yang dilakukan orang mereka cenderung membalik ke dalam satu sama lain, dalam sejenis pembakaran Deleuzian. Hanya sedikit perbedaan jika medan eksistensi (mengada plus potensi; yang aktual dalam relasinya dengan yang virtual) dipandang sebagai interioritas nirbatas atau suatu paralelisme dari eksterioritas yang saling. Yang  dengan cara manapun juga tetap  akan membakar anda. Sementara Spinoza menempuh kedua cara: suatu substansi yang tak dapat dibagi lagi dibagi menjadi atribut-atribut paralel. Sampai pada situasi di mana istilah transendensi dan imanensi mengkonotasikan relasi-relasi ruang-dan mereka memang semestinya begitu- mereka menjadi tidak memadai lagi perannya. Tipuan filosofis seperti yang dilakukan Spinoza selalu dibutuhkan. Triknya adalah untuk nyaman dengan paradoks produktif.[xiii]

Semua ini- tiadanya garis demarkasi yang jelas antara yang fisik, yang vital, yang manusia, dan yang supermanusia: ketidakpastian dari imanensi dan transendensi-juga berimplikasi pada pemikiran etis. Satu benang penghubung yang menghubungkan variasi dari konstruksionisme sosial yang kini mendominasi teori budaya, menyatakan bahwa semuanya, termasuk alam ,adalah dikonstruksi oleh wacana. Definisi klasik  dari manusia sebagai binatang rasional kembali melalui permutasi yang baru, manusia sebagai binatang yang mengoceh. Hanya saja binatangnya diberi tanda kurung: manusia sebagai  ocehan budaya Hal ini menegakkan kembali pembagian tegas antara yang manusia dan nirmanusia, karena sudah jadi hal biasa, setelah Lacan, untuk menjadikan bahasa sebagai simpanan khusus manusia (meskipun simpanse juga mengoceh). Kini mengatakan tingkat kuantum ditransformasikan oleh persepsi kita adalah tidak sama dengan mengatakan bahwa ini hanya dalam persepsi kita; mengatakan bahwa alam secara diskursif dikonstruksi  tidak harus berarti sama dengan mengatakan alam ada dalam  wacana. Konstruktivisme sosial dengan mudah mengarahkan kita pada solipsisme budaya yang analogon dengan tafsir subyektivis atas mekanikan kuantum. Dalam skenario solipsis yang terburuk ini, alam tampak sebagai imanen bagi budaya (sebagai konstruknya). Skenario terbaiknya, ketika status alam dianggap tidak perlu diperhatikan, ia hanya digeser ke samping. Dalam kasus ini ia tampak, pastinya, sebagai transenden bagi budaya (sebagai sisanya yang diam dan tak bermakna). Mungkin beda antara yang terbaik dan terburuk tidaklah sejauh itu. Karena di setiap kasus, alam sebagai mengalami (nature as naturing) , alam sebagai mempunyai dinamismenya sendiri, dihapus. Gerakan teoritis yang menyasar untuk mengakhiri Manusia berujung pada membuat budaya manusia sebagai ukuran dan makna bagi semua hal dalam semacam antrofomorfisme liar yang menggugurkan- salah satu contohnya-  artikulasi dari teori budaya dan ekologi. Tidaklah berarti untuk memeriksa hubungan antara yang manusia dan nirmanusia jika yang nirmanusia adalah  hanya konstruk budaya manusia, atau inersia. Konsep-konsep alam dan budaya sangat perlu untuk digarap ulang, dengan cara yang menyatakan keliyanan (alterity) nirmanusia yang tak dapat direduksi dalam dan melalui koneksi aktifnya dengan yang manusia dan sebaliknya. Biarkan materi menjadi materi, otak menjadi otak, ubur-ubur menjadi ubur-ubur, dan budaya menjadi alam, dalam keliyanan yang tak dapat direduksi dan koneksi tanpa batas.

Catatan terakhir: umpan balik dari fungsi-fungsi „lebih tinggi“ dapat mengambil bentuk sebagai pengerahan naratif dalam esai-esai tentang mogoknya naratif.

III

Cerita selanjutnya.

Cerita terakhir adalah tentang otak. Kali ini tentang yang tak berotak. Namanya adalah Ronald Reagan. Cerita ini muncul di buku fisiologi syaraf yang populer karya Oliver Sacks.[xiv]

Sacks menggambarkan pengalamannya menonton pidato televisi „Si Komunikator Ulung“ di bangsal rumah sakit pasien yang menderita dua jenis disfungsi kognitif. Beberapa menderita aphasia global, yang membuat mereka tidak dapat memahami kata sebagaimana adanya. Namun demikian mereka dapat memahami apa kebanyakan dari apa yang dikatakan, karena mereka dikompensasikan dengan mengembangkan kemampuan luar biasa untuk membaca tanda-tanda ekstra verbal: gerakan, ekspresi wajah, dan kial lainnya- bahasa tubuh. Sementara penghuni lainnya di bangsal tersebut menderita apa yang disebut tonal agnosia, yakni kebalikan dari aphasia. Kemampuan mereka untuk memahami keekspresifan kata hilang, dan karena itu perhatian mereka tercurah pada tanda-tanda ekstra verbal lainnya. Bahasa direduksi menjadi bentuk gramatikanya dan konten semantik atau logisnya. Kedua kelompok ini sama-sama tidak memilih Reagan. Bahkan pidatonya disambut luas dengan lolongan tawa dan ekspresi kemarahan. „Si Komunikator Ulung“ gagal membujuak. Bagi pasien aphasia, ia secara fungsional buta tanda ekstra verbal; bahasa tubuhnya bagi mereka tampak kocak dan janggal. Bagaimanpun juga ia cuma sekedar aktor buruk yang didaur ulang, dan juga mengalami penuaan. Para pasien agnosia dibuat marah besar karena lelaki itu tidak dapat menyusun kalimat gramatik atau mengkiti satu garis logika ke arah kesimpulan. Bagi mereka ia cacat secara intelek. (Perlu diingat bahwa ini terjadi jauh sebelum awal penyakit Alzheimer-nya Reagan- apa artinya ini bagi perbedaan antara kenormalan dan degenerasi?)

Kini semua ini mungkin berita baru bagi mereka yang berpikir bahwa Reagan dan bintang-bintang politik pascamodern lainnya sebagai model kepemimpinan karismatik, di mana kefasihan repertoar gestural dan tonal si figur publik menghipnotis massa,  meninabobokan mereka ke dalam keyakinan buram pada konten dengan kata-kata manis.  Sebaliknya, yang mengherankan adalah Reagan tidak ditertawakan atau diledek hingga turun dari panggung kampanyenya, ia malah menyapu bersih jabatan kepresidenan bukan hanya sekali melaikan dua kali. Bukannya rakyat tidak mendengar gumaman verbalnya atau tidak mengetahui ketidak-koherenan pikirannya. Hal ini sudah jadi inti bulan-bulanan lelucon dan berita. Dan bukannya kekurangan di tingkat koherensi verbal tertutupi oleh kefasihan seduktif dari citra tubuhnya. Reagan lebih terkenal berkat polip-polipnya ketimbang ketenangannya, dan ada suatu keterpesonaan kolektif terhadap kesehatannya yang memburuk dan rontoknya bagian-bagian kecil dari tubuhnya. Satu-satunya kesimpulan adalah bahwa Reagan adalah pemimpin yang efektif justru karena disfungsi gandanya. Ia mampu memproduksi efek-efek idelogis melalui cara-cara yang nir-ideologis, suatu pergeseran global dalam araha politik Amerika Serikat melalui keruntuhan. Cara-caranya efektif. Sekali lagi: afektif, sebagai lawan dari emosional. Ini bukan soal empati atau identifikasi emotif, atau bahkan bukan bentuk identifikasi apapun[xv].

Reagan mempolitisir kekuatan pantomim. Kekuatan tersebut ada pada interupsi. Pantomim mengurai gerakan, memotong kontinuitasnya  ke seri subgerakan yang secara potensial nirbatas yang dipungtuasi oleh hentakan.  Di setiap hentakan, pada setia potongan gerakan, ada potensi bagi setiap gerakan untuk melenceng ke arah lain, menjadi gerakan yang lain. Setiap hentakan menangguhkan kontinuitas gerakan, untuk sekejap, terlalu cepat untuk dapat dipersepsi tapi cukup penting untuk mengisyaratkan pergantian arah. Hal ini memampatkan ke dalam gerakan tersebut, gerakan potensial yang sedang berjalan yang dengan cara tertentu hadir tanpa menjadi teraktualisasi. Dengan kata lain, setiap hentakan adalah titik kritis, satu titik singular, a titik pencabangan. Di titik tersebut, pantomin menjadi hampir secara tak tertangkap oleh indera menyelipkan satu kejapan virtualitas ke gerakan aktual yang sedang berlangsung. Si mime jenius adalah juga keberuntungan dari si aktor buruk. Keidiotan gesturalnya Reagan punya efek pantomim. Demikian juga ketidak-koherenan verbalnya dalam menyampaikan makna. Ia adalah sendatan komunikatif. Dua tingkat interupsi ini, yakni interupsi di gerakan linear dan progresi makna konvensional, disatukan dalam sosok Reagan, yang saya kira, punya daya tarik positif: warna suaranya, suaranya yang bergetar indah.  Dua garis paralel suspensi abstraktif beresonasi bersama. Suaranya menubuhkan resonasi. Ia menubuhkan abstraksi tersebut. Ia adalah penubuhan dari intensitas tanpa signifikansi yang menggandakan semua gerak dan frase aktualnya, mengikutinya seperti bayang-bayang seorang mime. Ia adalah kontinuitas dari diskontinuitasnya.[xvi]

Reagan mengoperasionalkan yang virtual di politik pascamodern. Sendirian, ia jauh sekali dari seorang ideolog. Ia bukan apa-apa, suatu kebodohan secara musikal yang dilengkapi dengan ketidak-koherenan. Tapi, ini agak tidak adil. Ia adalah suatu benih (awalan, incipience). Ia tidak masuk kualifikasi dan tanpa konten. Tapi benihnya ditunjang oleh berbagai teknologi transmisi citra dan disebarkan oleh aparat-aparat seperti keluarga atau gereja atau sekolah atau kamar dagang, yang terhubung dengan media yang bertindak sebagai bagian dari sistem syaraf dari tubuh politik yang baru dan mengerikan reaktifnya. Pada sisi penerima lah benih Reagan dikualifikasi, diberi konten. Aparat-aparat penerima tersebut memenuhi fungsi abarannya (inhibition) , pembatasnya. Mereka memilih satu garis gerakan, satu progresi makna, untuk diaktualisasi dan dicangkokkan secara lokal. Itulah mengapa Reagan bisa jadi banyak hal bagi banyak orang: itulah mengapa mayoritas elektorat bisa beradu pendapat dengannya di isu-isu penting namun tetap memilihnya. Karena ia diaktualisasi, di dalam lingkungan mereka, sebagai satu gerakan dan makna pilihan mereka sendiri- atau setidaknya dipilihkan untuk mereka dengan persetujuan penuh.  Ia adalah orang yang tepat bagi semua abaran. Umumnya dikatakan bahwa ia terutama memerintah dengan memproyeksikan atmosfer kepercayaan diri. Itu adalah ciri emosional dari gayanya berpolitik, di samping disfungsi. Kepercayaan diri merupakan penerjemahan emosional dari afek sebagai potensi hidup yang dapat ditangkap (capturable), ia adalah ekspresi emosi yang partikular dan menjadi-sadar tentang vitalitas seseorang yang dimaknai sampingan. Reagan memancarkan vitalitas, virtualitas, tendensi, dalam sakit dan interupsi („Saya yang memegang kontrol di sini“ teriak si jenderal ketika Reagan ditembak. Sebenarnya bukan begitu halnya yang terjadi.) Proses aktualisasi yang menyebarkan benih Reagan bervariasi. Tapi kecuali si sinis, si aphasik dan si agnosiak, secara konsisten aktualisasi-aktualisasi ini  melibatkan perasaan percaya diri berlebihan tentang individual yang seharusnya berdaulat, di satu bangsa yang seharusnya hebat, yang pucuk tertingginya oleh kebodohan dan ketidak-koherenan. Dengan kata lain, Reagan adalah banyak hal bagi banyak orang, tapi selalu dalam kerangka umum jingoisme (kebijakan luar negeri yang agresif ,penerj.) afektif. Kepercayaan diri adalah aphoteosis (puncak, klimaks) dari penangkapan afektif. Difungsionalisasikan dan dinasionalisasikan, kepercayaan diri langsung menguatkan konstruksi penjara dan petualangan neokolonial.

Apa yang menjadi kepentingan utama kini, pasca-Reagan, adalah sejauh mana ia mengkontraksikan ke dalam dirinya, operasi-operasi yang dapat dikatakan sebagai endemik bagi ekonomi kapitalis lanjut, yang berbasis citra dan informasi. Pikirkan tentang peristiwa-peristiwa citra/ekspresi  yang mengepung kita. Pikirkan interupsi. Pikirkan tentang potongan cepat di video-klip atau iklan-iklan super keren di TV. Pikirkan tentang potongan-potingan dari programming TV ke iklan. Pikirkan  tentang potongan menyilang dari programming dan iklan yang dimungkinkan oleh zapping. Pikirkan distraksi yang dialami ketika menyaksikan televisi, potongan-potonga konstan dari layar ke lingkungan sekitarnya, ke konteks menonton  di mana aksi-aksi lainnya dilakukan dengan putus sambung selayang pandang.  Pikirkan tentang jukstaposisi yang dengan cerianya tidak kongruen ketika meramban internet. Pikirkan tentang bagaimana kita dibombardir citra iklan di luar layar, di setiap langkah dalam aktivitas sehari-hari kita. Pikirkan tentang operasi imajistik dari barang konsumen seiring dengan menurunnya waktu perputaran menjadi secepat didaurulangnya gaya. Di mana-mana potongan, suspens-benih. Mungkinkah ini virtualitas?

Afek memegang kunci dalam menimbang kuasa pascamodern setelah ideologi, Karena meskipun ideologi masih ada bersama kita, kerap dalam bentuknya yang paling keji, ia tidak lagi meliputi semuanya. Ia tidak lagi mendefinisikan moda-moda global dalam fungsionalisasi kuasa.  Kini ia adalah salah satu moda kuasa dalam medan yang lebih luas yang tidak terdefinisikan oleh ideologi.[xvii] Ini membuat lebih genting lagi untuk mengaitkan ideologi dengan kondisi kemunculannya yang riil. Karena hal ini kini diejawantahkan, dipantomimkan oleh penguasa. Salah satu cara mengkonseptualisasikan cara-cara nirideologis di mana ideologi diproduksi kita dapat menggunakan istilah induksi  dan transduksi- induksi, sebagai pemicu kualifikasi, penahanan, aktualisasi, dan transduksi sebagai transmisi dari impuls virtualitas dari satu aktualisasi ke yang lain dan melintasi semua aktualisasi tersebut (apa yang disebut Guattari sebagai transversality). Transduksi adalah transmisi dari satu kekuatan potensial yang tidak bisa tidak dirasakan, secara serentak menggandakan, memungkinkan, dan akhirnya, menjadi aksi tandingan seleksi-seleksi yang membatasi dari aparat-aparat aktualisasi dan pencangkokan. [xviii] Hal ini berujung pada pengajuan suatu teori analog untuk kuasa berbasis citra: citra-citra sebagai pembawa kekuatan kemunculan, sebagai wahana bagi potensialiasi eksitensial dan transfer. Di sini juga sudah ada pendahulu yang ternama. Khususnya, Walter Benjamin, yang konsepnya mengenai syok dan bombardir citra, yang membuat analisa tentang temporalitas sebelum-sesudah yang tak termediasi- apa yang disebutnya sebagai „citra dialektis“ (dialectical image), yang punya keterpesonaan pada mime dan mimikri, yang menghubungkan taktilitas dan penglihatan, semuanya menawarkan banyak hal pada teori afektif di tengah kuasa kapitalis lanjut.[xix]

Pada poin ini, kesannya mungkin sudah tumbuh sedemikian rupa hingga afek dicemooh di sini karena seakan seluruh dunia bisa masuk ke dalamya. Di satu sisi, ia bisa demikian dan memang demikian. „Atom-atom“ afektif yang melimpahi hentakan dalam mime-kuasa adalah monad-monad, perspektif-perspektif virtual induktif/transduktif yang memudar ke semua arah ke tanpa batas, dan hanya dipisahkan ambang-ambang dinamik.[xx] Mereka otonom bukan melalui penutupan (closure) tapi melalui keterbukaan yang singular. Sebagai „kawasan-kawasan“ yang tak terikat dalam medan afektif yang juga sama tak terikatnya, mereka terhubung dengan seluruh semesta potensi afektif, seperti dengan tindakan dari jarak tertentu. Oleh karena itu mereka tak punya luar meskipun mereka terdiferensiasi berdasarkan potensi-potensi mana yang paling pas untuk diekspresikan (secara efektif diinduksi) seiring dengan peralihan „kawasan“ mereka ke dalam aktualitas. Kuncinya ada pada peralihan mereka ke aktualitas. Afek adalah seluruh dunia: dari sudut presisi dari kemunculan diferensialnya. Bagaimana elemen virtualitas dikonstruksi,baik masa lalu atau masa depan, di dalam atau luar, transeden atau imanen, sublim atau abjek, teratomisasi atau kontinu- di satu sisi adalah persoalan indiferens. Ia adalah semua ini, yang berbeda di masing-masing kasus aktual.  Konsep-konsep virtual  dalam dirinya adalah penting hanya sejauh sumbangan mereka pada pemahaman pragmatis atas kemunculan, ke sejauh mana mereka dapat memungkinkan terpicunya perubahan (merangsang yang baru) . Yang  terpenting adalah ujung yang virtual, di mana ia merembes ke dalam yang aktual. Karena batas rembesan tersebut adalah di mana yang potensial, secara aktual ditemukan.

Resistensi secara manifetasi, bukan otomotatis, adalah bagian dari resepsi citra dalam budaya-budaya kapitalis lanjut. Tapi baik efek media masa maupun media berbasis citra dan informasi launnya tidak bisa secara sederhana dijelaskan dalam pengertian yang lack (kurang): memudarnya afek, melemahnya keyakinan, atau alienasi. Media massa secara masif mempotensialisasi, tapi potensi ini terbatasi, dan baik kemunculan potensi dan batasannya adalah sama dan sebangun dengan fungsionalisasi budaya-politik dari media, dalam kaitannya dengan aparat-aparat lainnya. Transmisi media adalah pelanggaran-pelanggaran indeterminasi. Agar punya efek spesifik  mereka harus bertekad agar punya efek tersebut melalui aparat-aparat aktualisasi dan pencangkokkan yang tercolok ke mereka dan secara transformatif meneruskan apa yang mereka lahirkan (keluarga, gereja, sekolah dan kamar dagang, untuk menyebvutkan beberapa). Kebutuhan untuk mengaktualisasi transmisi media sama dirasakannya bagi politik reaktif maupun politik resistensi dan membutuhkan pengertian baru tentang tubuh dalam kaitannya dengan signifikansi dan yang ideal atau inkorporeal. Setidaknya di Amerika Utara, kelompok paling kanan lebih terbiasa dengan potensi imajistik dari tubuh pascamodern ketimbang kelompok kiri yang sudah mapan, mereka bahkan sudah berhasil mengeksploitasi keuntungannya setidaknya selama dua dekade. Filsafat afek, potensi dan aktualisasi dapat membantu mengembangkan taktik tandingan.

IV

Cerita terakhir:

Seorang lelaki menuliskan reformasi undang-undang layanan kesehatan di Gedung Putihnya.  Rancangan  ini mulai meleleh di bawah awasan mata media. Dia membawanya ke Bukit (dari Capitol Hill, sebutan bagi kongres AS, penerj.),  di mana rancangan undang-undang ini terus meleleh. Dia tidak mengucapkan salam perpisahan.

Dan meskipun indikator ekonomi menunjukan tanda-tanda akurat mengenai perbaikan ekonomi, pasar saham tetap lesu. Melalui penjelasannya, seorang komentator TV mengutip satu perasaan empati. „Gumaman“ si lelaki tentang isu-isu lain telah melemahkan kepercayaan publik padanya dan sekarang berpengaruh pada prakarsa layanan kesehatan. Kekhawatiran yang berkembang adalah bahwa Presiden Clinton sedang kehilangan rasa „kepresidenannya“. Apa hubungan semua ini dengan kesehatan ekonomi? Opini yang berkembang di kalangan komentator media adalah bahwa perjalanan dari reformasi layanan kesehatan ini akan membahayakan ekonomi. Sulit melihat mengapa pasar tidak kunjung bergerak naik  dengan adanya berita tentang kegoyahan „yang tidak presidensial“ tentang apa yang disebut oleh banyak „pencipta opini“ sebagai suatu program sosial yang mahal dan tidak konsisten dengan kebijakan ekonomi yang pada dasarnya stabil yang diwarisi dari pemerintahan terdahulu yang dianggap berjasa dalam mengawali perbaikan ekonomi.  Namun demikian, pertanyaan ini bahkan tidak diajukan sama sekali, karena para komentator tersebut bergerak di bawah satu asumsi bahwa pasar saham mencatat fluktuasi afektif di lingkup-lingkup yang berdampingan yang sifatnya lebih langsung dari indikator ekonomi yang semestinya. Apakah mereka kebingungan? Tidak demikian halnya, seperti yang disampaikan seorang teoretikus ekonomi tertentu,  ketika diminta untuk menjelaskan  ke penonton umum  tentang pondasi utama dari sistem kapitalis moneter, maka jawabnya adalah „keimanan“ (faith).[xxi]  Dan dalam ekonomi kapitalis lanjut- apakah penyebab utama inflasi bagi para ahli-ahli tersebut? Satu „pola pikir“ (mindset), ujar mereka, di mana perasaan tentang masa depan menjadi nubuat yang direalisasikan oleh diri, yang mampu membalik kondisi-kondisi „riil“. [xxii]

Kemampuan afek untuk memproduksi dampak ekonomi secara lebih cepat dan pasti ketimbang ekonomi itu sendiri menandakan bawha afek adalah suatu kondisi riil, satu variabel intrinsik dari sistem kapitalis lanjut, sama infrastrukturalnya dengan pabrik. Sebenarya, ia melampaui yang infrastruktural, sebagai efek ia ada di mana-mana. Kemampuannya untuk menjadi tangan-kedua, untuk berpindah ranah dan memproduksi efek-efek melintasi semua itu, memberinya ubikuitas metafaktorial (metafactorial ubiquity). Ia melampaui infrastruktural. Ia transversal.

Fakta ini adalah tentang afek- persoalannya sebagai fakta perlu disertakan dalam teori budaya dan politik. Jangan lupa.

*Diterjemahkan oleh Ferdiansyah Thajib dari Brian Massumi, 2002. “The Autonomy of Affect.” dari Parables for the Virtual: Movement, Affect, Sensation.Duke University Press Durham & London. Hal. 23-45.

Catatan Kaki:


[i] Penjelasan lebih lanjut mengenai „umpan balik fungsi-fungsi yang lebih tinggi“ lihat di bab 8 dan 9.

[ii] Lihat Gilbert Simondon, L’individu et sa genese physico-biologique (Paris:PUF, 1964) khususnya bab 2 (analisis tentang kimia kristalisasi). Di seluruh karyanya, Simondon  mengajukan kritik yang berdampak luas  mengenai konsep bentuk dan struktur dalam filsafat dan ilmu alam dan sosial.  Penjelasan lebih lanjut mengenai phasing  dan dephasing , lihat bab 4.

[iii] Gilbert Simondon, L’individuation phsysique et collective (Paris:Aubier, 1989), 99. Lebih jauh tentang bentuk benih, lihat bab 6 dan 7. Penjelasan lebih jauh tentang cara-cara mengkonseptualisasikan diferensiasi nirstruktur dari medan kemunculan, lihat bab 3 dan 8.

[iv] Tentang propriokonsepsi dan afek, lihat bab 2 di buku ini. Tentang sinestesia, lihat bab 6,7, dan 8. Tentang perspektif virtual, lihat bab 2 dan 8.

[v] Kita bisa melihat hubungan dapat ditarik ke karya Walter Benjamin tentang  shock (kejut)dan sirkulasi citra. Kutipan Susan Buck-Morss dari Arcade Project-nya Benjamin tentang „struktur monadologis“ dari „citra-citra dialektis“. Struktur ini adalah „medan kekuatan“ yang mengejawantahkan temporalitas nirlinear (konflik antara „sebelum sejarah“ dan „setelah sejarah“ dalam hubungan langsung antara satu sama lain, melompati masa kini yang tanpanya konflik ini tidak akan berlangsung: „agar keping masa lalu bisa disentuh oleh aktualitas masa masa kini, tidak bisa ada koneksi di antaranya“). „Dream-World of Mass Culture: Walter Benjamin’s Theory of Modernity and the Dialectics of Seeing,“ dalam Modernity and the Hegemony of Vision. Michael Levin (ed.) Berkeley: University of California Press, 1993), 312.

[vi] Untuk analisis afek yang cemerlang dalam pengertian intensitas, vitalitas, synesthesia („persepsi amodal“), dan pemahaman diri yang nirsadar , lihat Daniel Stern, The Interpersonal World of the Infant: A View from Psychoanalisis and Developmental Psychology (New York: Basic Books, 1985). Setelah ini dalam buku ini akan dibedakan antara afek, persepsi dan sensasi sebagai upaya menjelaskan poin ini.

[vii] Simondon, L’individu et sa genese physico-biologique, 149

[viii] Lihat khususnya Difference and Repetition, penerj: Paul Patton (New York: Columbia University Press, 1994) 271-72, dan Deleuze dan Guatarri,  A Thousand Plateaus, penerj.: Brian Massumi (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1987), 141. Lebih jauh lagi tentang referensialitas diri dan keberbedaan  antara yang manusia, yang buatan, dan yang diinvensi, lihat bab 4 dan 9.

[ix] Deleuze mendiskusikan persepsi, otak, dan materi di Cinema I: The Movement-Image. Penerj. Hugh Tomlinson & Barbara Habberjam (Minneapolis: University of Minnesota Pressm, 1986), bab 1 dan 3 (dalam hubungannya dengan Bergson).Deleuze dan Guattari membuat hubungan antara otak dan khaos dalam kesimpulannya di What is Philosophy?,  Penerj. Hugh Tomlinson & Graham Burchell (New York: Columbia University Press, 1994).

[x] David Bohm dan B.J. Hiley, The Undivided Universe (London: Routeledge, 1993)

[xi] Perbedaan antara perspektif ini dengan perspektinya Lawrence Grossberg adalah bahwa pendekatannya tidak membedakan secara tegas antara tatanan implikasi dan tatanan eksplikasi (antara virtualitas dan aktualitas, antara intensi dan ekstensi). Meskipun Meaghan Morris tidak menggunakan istilah afek, analisanya atas fungsi layar TV semakin membawa pendekatannya pada media massa ke dekat afinitas filosofis yang tengah dijelaskan di sini. Dalam „Ecstasy and Economics (A Portrait of Paul Keating),“ ia menggambarkan citra di layar sebagai memicu satu „fase pemberdayaan“ (empowerment phase)  yang juga merupakan satu „jalan“  (passage) dan „pemindahan “(transport)  bukan di  antara dua tempat melainkan di antara satu tempat dan satu  nirtempat, sebuah „elsewhere“(tempat lain): „layar…bukanlah satu perbatasan antara tempat atau ruang yang bisa dibandingkan.. Apa yang tampak ‚ada’ di sana, ‚digelimang’ cahaya, hanyalah suatu ‚apa’-satu kata benda pengganti relatif, sedikit bahasa, relasi yang ‚digambarkan kata-kata anda’.“ Relasi tersebut merupakan „disjungsi yang dapat disosiasikan“ (sociable disjunction). Morris,  Too Soon, Too Late: History in Popular Culture (Bloomington: Indiana University Press, 198, 90).

[xii] Simondon, L’individu et sa genese physico-biologique,156

[xiii] Setelah menyatakan betapa taksanya terma-terma seperti imanensi dan transendensi,  namun demikian di banyak poin di buku ini „imanensi“  akan lebih dielu-elukan, demi alasan strategis terkait dengan sejarah filsafat dan pemikiran politik Barat, dan juga mengikuti Deleuze. Prosedur „paradoks produktif“ diadopsi untuk mengatasi persoalan yang diisyaratkan Simondon, dan untuk menghindar  dari bahaya spasialisasi, adalah untuk membelokkan pengertian tersebut dengan konsep-konsep seperti-waktu seperti proses dan referensi-diri (yang imanen tidak dipahami sebagai suatu imanensi ke sesuatu, melainkan  kepemilikan (belonging) suatu proses ke potensinya sendiri untuk bervariasi) sementara mempertahankan konotasi seperti-ruang (imanensi suatu proses sebagai suatu „ruang“ yang cocok dengan perubahan yang demikian). Untuk  penjelasan lebih lanjut mengenai pembelokan ruang waktu atas imanensi, lihat bab 2, 8, dan 9.

[xiv] Oliver Sacks, The Man Who Mistook His Wife for a Hat (London: Picador, 1985), 76-80.

[xv] Tentang ini dan topik lain, termasuk detil mengerikan tentang rontoknya Reagan, lihat Kenneth Dean dan Brian Massumi, First and Last Emperors: The Absolute State and the Body of the Despot (New York: Autonomedia, 1992)  dan bab 2 setelah ini. Pernyataan bahwa ideologi- seperti struktur aktual-  diproduksi oleh operasi yang tidak berlangsung di tingkatnya dan tidak mengikuti logikanya hanyalah satu pengingat bahwa penting untuk mengintegrasikan lipatan ke dalam (infolding), atau yang disebut David Bohm „tatanan implikasi“, dalam analisa kita. Ini penting untuk menghindar daro penangkapan dan penutupan  di tataran signifikansi. Ini menandai ukuran keterbukaan di atas realitas-realitas heterogen dari semua struktur  ideologis, betapapun absolutis. Ia adalah kial bagi penguatan konseptual pada resistensi dalam kaitannya dengan yang riil. Ideologi disampaikan di sini baik sebagai makna umumnya  sebagai struktur keyakinan maupun pengertian teoritis-budayanya sebagai pemosisian subyek yang menginterpelasi.

[xvi] Tentang mime, lihat Jose Gil, Metamorphoses of the Body, penerj: Stephen Muecke (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1998) 101-104.

[xvii] Satu analisa tentang bagaimana medan yang lebih besar ini bekerja, lihat Gilles Deleuze „Postscript on Control Societies“ dalam Negotiations, 1972-1990, penerj martin Joughlin (New York: columbia University Press, 1995), 177-82. Lihat juga Brian Massumi, „Requiem for Our prospective Dead: Towards a Participatory Critique pf Capitalist Power,“ dalam Deleuze and Guattari: New Mapping in Politics, Philosophy, and Culture, ed. Eleanor Kauffman dan Kevin John Heller (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1998), 40-63.

[xviii] Konsep transduksi dipinjam dan dimodifikasi dari karya Gilbert Simondon.

[xix] Sebagai tambahan dari kutipan Buck-Morss yang disampaikan di catatan 12, lihat khususnya „On the Mimetic Faculty“ dalam Walter Benjamin, One Way Street (London:Verso, 1985), 160163. Lihat juga Michael Taussig, “Tactility and Vision“, dalam The Nervous System (New York: Routledge, 1992), 141-48. Michael Bakhtin juga mengembangkan teori analog tentang bahasa dan citra, di mana sinestesia dan konteks yang melipat ke dalam yang ada di bagian awal juga dibahas mendalam di „The Problem of Content, Material, and Form in Verbal Art“ dalam Art and Answerability: Early Philosophical Essays by M.M. Bakhtin ed Michael Holquist  dan Vadim Liapunov, penerj.Vadim Liapunov dan Kenneth Brostrom (Austin: University of Texas, 1990) 257-325. Lebih lanjut mengenai analog, lihat bab 5.

[xx] Bohm dan Hailey menggunakan metafora holografis untuk menyatakan hakikat monadik dari „tatanan implikasi“ sebagaimana „terlipat keluar“ (enfolded) dalam tatanan eksplikasi. The Undivided Universe, 353-54. Lihat bab 8 tentang monadisme.

[xxi] Robert Heilboner dan Lester Thurow, Economics Explained: Everything You Need to Know about How the Economy Works and Where It Is Going (New York: Simon & Schuster, 1994), 138: „Di belakang (mata uang), berdiri kebutuhan utama akan keimanan. Uang menjalankan perannya yang tak dapat diabaikan sejauh kita meyakininya. Ia berhenti menjalankan fungsinya di momen ketika kita berhenti percaya.“

[xxii] Ibid, 131.

Leave a Comment