Jean-Luc Nancy: Kata, Komunisme

Bukan kata sebelum pengertiannya, melainkan kata sebagai pengertian dan agen historis.

“Komunisme” adalah kata dengan cerita yang aneh. Sangatlah sulit untuk melacak asal mulanya dengan ketat. Akan tetapi, jelas bahwa kata “komunis” sudah ada sejak abad  XIV, yang berarti “orang yang memiliki bersama-sama suatu properti yang masuk ke kategori main morte –yakni, yang tidak masuk ke hukum waris”: suatu biara adalah kepunyaan satu komunitas Biarawan, yang, sebagai komunitas, mandiri dari individu-individu. Tampaknya bahwa pada saat yang sama atau bahkan sebelumnya, sejak abad ke-XII, kata yang sama digunakan untuk menunjuk beberapa aspek hukum komunal dan terkait dengan gerakan komunal yang meluas pada awal borjuasi.

Setelah itu, yakni di abad ke-XVIIIe kata ini muncul dalam teks yang ditulis oleh Victor d’Hupay de Fuveau pada 1785 – empat tahun sebelum revolusi Prancis. Ia menunjuk pada proyek atau mimpi menemukan satu komunitas kehidupan – yang persis seharusnya menggantikan komunitas Biarawan.

Di sini adalah contoh satu kutipan  d’Hupay :

Cette union et cette communauté de régime moral économique serait praticable par pelotons, dans tous les états, sans confondre les fortunes, eu égard au juste mérite de divers talents, moyen que n’avaient point encore voulu admettre les Zélateurs de la République de Platon. Elle fortifierait l’amitié humaine dans chaque profession, en excluant toute vaine et extérieure distinction, odieuse dans une même classe de Citoyens: rivalité puérile qui confond et entraîne ensemble tous les états à leur ruine et à tous les crimes. Tel fut l’abus funeste auquel remédia par ses simples Lois Somptuaires le bon Roi Idomenée, modèle de nos deux Henris. Les Agapes des premiers Chrétiens tendaient au même but, en réunissant les Hommes dans cet esprit de simplicité le plus propre à maintenir la paix et la religion. Il appartiendrait donc à un Prince qui voudrait mieux mériter le titre de Père de la Patrie, que tous ceux encore qui ont favorisé l’établissement des Moines, devenus inutiles aujourd’hui, placent ces vrais et nouveaux Modèles de tous les états, chacun relativement à leur fonction, dans les divers Monastères qui se dépeuplant tous les jours, semblent attendre une meilleure destination.[1]

D’Hupay adalah teman Restif de la Bretonne’s, yang merupakan salah satu orang pertama yang mengajukan konsep “komunisme atau communauté” di antara beberapa jenis pemerintahan.

Dalam otobiografinya, (Monsieur Nicolas), ia menjelaskan komunisme sebagai satu dari sembilan tipe pemerintahan, dan menulis bahwa tipe ini hanya efektif bagi sebagian orang saja di Amerika Selatan, yang “bekerja bersama di pagi hari dan bermain bersama di siang hari” (ini tidak begitu beda dengan apa yang dikatakan Marx dalam Ideologi Jerman).

Tidak lama setelahnya, pada saat Revolusi Prancis (dan ini cukup dikenal luas), Gracchus Babeuf,  berpartisipasi dalam “Commune insurectionnelle de Paris” pertama dan berkali-kali menggunakan  kata “communautariste” dalam konteks pemikirannya mengenai kaum Egaux dan frase communauté nationale.

Di samping penggunaan kata ini secara eksplisit, kita harus mengingat bagaimana kata-kata benda lainnya digunakan untuk hal yang sama, misalnya doktrin “Diggers” (penggali) di Inggris dari abad ke-XVI, yang mengatakan tanah sebagai “common treasure” (harta karun bersama) dan masuk ke zaman Revolusi Inggris pertama, yang berakhir dengan pembentukan Republik pertama di bawah nama Commonwealth (persemakmuran) yang pada masa itu nyaris bermakna res publica.

Sebenarnya,  data historis ini tidak mampu menjelaskan asal muasal dan makna– atau, lebih tepat lagi, akal (sense) –“komunisme”. Tidak ada sejarah, tidak ada etimologi, yang dapat memproduksi sesuatu seperti akal.

Tapi ada sesuatu yang dapat kita pahami dari data-data tersebut: sesuatu tengah dipertaruhkan dengan kata ini, dengan penemuan kata ini dan dengan upaya atau kebutuhan yang dilahirkannya.. Sesuatu– yang masih ada di depan kita, yang masih akan ditemukan, atau yang masih akan datang.

Kata Komunisme, lagi. Kata tersebut sebagai kehadiran, sebagai perasaan, sebagai akal (lebih dari makna).

Sampai pada jarak tertentu, aneh tampaknya bahwa penyelidikan atau komentar tentang kata ini sangatlah langka. Seakan ia selalu diterima sebagai dari sananya(given)… Dalam cara tertentu memang demikian– tapi bagaimana caranya, ini membutuhkan lebih banyak refleksi …

         Bahkan jika sejarah tidak cukup untuk menjelaskan apa yang kita akan sebut “takdir” dari kata ini, ada yang positif di sini : komunitas – koinonia, communitas– muncul di masa masa transformasi sosial yang penting dan/atau persoalan atau bahkan kehancuran tatanan sosial.ini yang terjadi pada masa sebelum Kristiani dan juga pada tahap akhir dari feodalisme atau setelahnya revolusi industri pertama. Yang pertama adalah ketika transformasi seluruh struktur sosial dan budaya dunia antik – yakni, pencapaian final dari apa yang membuka dunia antik itu sendiri: dekonstruksi dari dunia agraris dan teokrasi. Dekonstruksi tersebut menjelaskan atau mengedepankan apa yang tersembunyi di bawah atau di dalam konstruksi tersebut: yakni, kebersamaan orang (terus terang, bahkan orang dengan semua mahluk lain seperti binatang, tumbuhan, bahkan bintang-bintang dan bebatuan…).Sebelum dan  lahir dari momen Yunani – oksidental – kebersamaan ini sudah ada dari sananya. Kita menyebutnya sebagai  “masyarakat holistik”, mengandaikan bahwa masyarakat tersebut memahami dirinya sendiri sebagai satu holon, yaitu satu kesatuan. Kepada kesatuan kita melawankan bagian– karena bagian diambil dari kesatuannya – atau suatu kebersamaan dari beberapa kesatuan– yakni, individu-individu. Dalam kedua representasi muncul pertanyaan yang sama: apa yang menjadi kebersamaan ketika kesatuan tidak diterima (given), dan mungkin tidak akan diberikan dengan cara apapun?

Maka bangkitlah koinônia atau saya bisa mengatakan dorongan ke arahnya, dorongan ke  arah komunitas. Ia datang atau muncul, mungkin ia membentuk dirinya sendiri karena apa yang ia sebut, apa yang ia namakan atau tunjuk bukanlah atau tidak lagi diberikan (given).

Sudah barang tentu, banyak ciri atau tren dari kehidupan  – atau lebih tepatnya, kehidupan dalam common – sudah diberikan/diterima dengan jenis pertama dari umat manusia, pastinya dan tepatnya, karena jenis pertama dari umat manusia bukan atau tidak pernah satu individual melainkan satu kelompok, sekumpulan dari banyak. Tapi sejauh mata memandang, sesuatu dari kebersamaan ini sudah diterima– dan diterima dengan atau melalui satu aspek dari kesatuan, dari keseluruhan (yang tak ada hubungannya dengan apa yang disebut  dengan totalitarianisme).

Jika kebersamaan diterima tanpa aspek ini, yakni, jika ia diterima sebagai suatu masyarakat– satu asosiasi ketimbang, katakanlah, satu kesatuan seperti keluarga, suku, klan – maka asosiasi demikian membuka pertanyaan tentang kemungkinannya sendiri dan konsistensinya sendiri: bagaimana mungkin berasosiasi dengan mereka yang tidak menginginkannya atau menolaknya. Maka masyarakat (society) adalah apa yang harus diterima dan dijustifikasi oleh anggotanya –socii. Sebaliknya,  communitas, atau communio, diciptakan sebagai gagasan dari apa yang terjustifikasikan oleh dengan sendirinya kehadiran atau bahkan keberadaan anggotanya. Komunisme adalah kebersamaan –Mitsein, ada-bersama –dipahami sebagai menjadi bagian dari keberadaan individu-individu yang berarti, dalam pengertian eksistensialnya,  sampai ke esensinya. Masyarakat berarti hubungan yang tidak esensial– bahkan jika dibutuhkan – antara individu-individu yang, dalam analisis finalnya, terpisah secara esensi.

(Saya tidak akan masuk ke analisis kata sosialisme dalam teks umum atau teksnya Marx. Seperti kita tahu, juga karena dilatari beberapa sebab historis – ini adalah keyakinan saya– mengenai kekuatan dan kedalaman kata tersebut (citra tersebut, simbol tersebut), komunisme sendirian mengambil dan mempertahankan kekuatan yang lebih dari sekedar pilihan politik, garis politik dan partai).

Bagi saya, inilah poinnya: komunisme mengatakan lebih dan mengatakan hal lainnya ketimbang suatu makna politik. Ia mengatakan sesuatu tentang properti. Properti bukanlah hanya soal pemilikan barang. Tepatnya ia di luar (dan/atau di dalam) semua asumsi yuridis tentang pemilikan. Inilah yang membuat semua jenis pemilikan selayaknya pemilikan seorang subyek, yakni ekspresinya yang layak. Properti adalah bukan milik saya: ia adalah saya.

Tapi  aku sebagai obyek (me), aku sebagai subyek (I), tidak pernah ada sendiri. Secara esensial ia ada dengan mahluk yang ada lainnya. Dengan di sini bukan lah tautan eksternal, ia sama sekali bukan tautan: ia adalah kebersamaan – relasi, berbagi, pertukaran, mediasi dan imediasi, makna dan perasaan. Dengan di sini tidak ada hubungannya dengan apa yang disebut kolektif. Kolektifitas artinya orang yang dikoleksi: yakni, orang yang di ambil dari manapun ke tidak di manapunnya kolektifitas atau koleksi tersebut. Ko- dalam kolektif tidaklah sama dengan komunisme. Ini bukan hanya soal etimologis (munire versus ligare). Ini adalah soal ontologi: ko dalam kolektifisme hanyalah eksternal “saling bersisian” yang menyiratkan tidak ada hubungan antara masing-masing sisi atau di antara bagian-bagian dari “partes extra partes” ini. Ko- dalam komunisme adalah hal lain. Ia adalah, dalam istilahnya Heidegger adalah tentang mit pada Mitsein, bukan kategoris melainkan dengan yang eksistensial (mit, co-). Yang kategoris artinya, kurang lebih dalam pengertian kantian, ia hanya formal dan tidak punya fungsi lain selain membedakan antara dengan (with) dan tanpa (without) (kamu di sini dengan aku, tapi kamu juga bisa di sini tanpa aku; ia tidak mengganggu fakta bahwa kamu di sini, atau fakta bahwa kamu adalah kamu dan aku dan adalah aku). Dengan eksistensial meyiratkan bahwa baik kamu maupun aku adalah sama bersama-sama atau terpisah. Ia menyiratkan bahwa si dengan adalah bagian dari lahirnya atau disposisi atau sebagaimana anda ingin menyebutnya – katakanlah : adanya kita. Masih ada lagi : hanya dalam kasus inilah dibolehkan untuk menyatakan adanya “kita” – atau bahkan: hanya dalam kasus inilah munculnya pernyataan kita dimungkinkan. Atau bahkan: jika kita hanya bisa dan setiap kali berupa tindak wicara (speech act), maka hanya kita yang secara eksistensial dinyatakan yang boleh menunjukkan signifikansinya (apa tepatnya signifikasinya adalah soal lain lagi: untuk kali ini, saya hanya mencatat bahwa ia menyiratkan suatu hubungan, bukan sekedar saling bersisian).

(Tanda kurung lainnya – maaf ! Tidak pasti bahwa ada, tentu saja, sesuatu yang “sekedar saling bersisian”. Saling bersisian sudah dianggap sebagai satu hubungan. Tapi kita akan membahas poin ini nanti.)

Dengan mengumpulkan beragam argumen yang saya sudah gunakan sejauh ini, saya dapat mengatakan : komunisme adalah tindak wicara dari eksistensi karena secara ontologis ia adalah mengada-dalam-common (being-in-common). Tindak wicara ini mengklaim (atas) kebenaran ontologis dari common, yakni relasi– yang akhirnya tidak lain daripada akal (sense).

(Saya bisa kembali lagi nanti atau di tempat lain tentang identitas akal dan relasi ini – demikian juga tentang identitas kebenaran dan ko- yang eksistensial).

Lebih jauh lagi : kebenaran common adalah properti. Properti bukan hanya berarti pemilikan atau kepunyaan. Sebaliknya, orang seharusnya mengatakan bahwa pemilikan atau kepunyaan hanya akan bisa dipahami dan dijelaskan benar jika properti dipahami terlebih dulu.

Marx hendak membuka jalan bagi suatu properti yang ia sebut “properti individu” yang berbeda dengan “properti privat” yang beda dengan “properti kolektif”. Baik privat dan kolektif hanya merujuk pada ranah dan kategori hukum. Hukum hanya mengenal tautan-tautan yang formal dan eksternal. Properti individual artinya: properti yang layak (proper) bagi subyek yang layak (proper) (kita bisa menyebutnya “orang” atau bahkan,sebagaimana yang dilakukan Marx dalam tulisannya “individual”).

Subyek artinya kapasitas apa yang kita bisa sebut “properness” (kelayakan) : cara memasuki suatu hubungan atau terlibat di dalam satu taut, satu interaksi, satu komunikasi, yang tidak ada hubungannya dnegan memiliki sesuatu (tapi juga mungkin terjadi pada hal-jal, obyek-obyek). Aku layak (proper) sejauh aku bisa berkomitmen diri dan juga berkomunikasi, yakni seiring dengan yang dijelaskan kata, aku berada dalam common (yang dalam bahasa Inggris dinamakan the common atau tempat komunal), aku dibuat darinya, olehnya, untuknya. Penjelasan Freud sangat membantu menjelaskan ini: sebagaimana ia nyatakan, Aku atau ego hanyalah satu cakram kecil, nyaris satu titik, yang muncul di permukaan ia besar yang merupakan totalitas dari mahluk lain di dunia. Bahkan dalam kesunyia, aku diciptakan dari seluruh dunia karena ia mengambil satu poin sensitifitas yang singular, dengan “aku” atau sebagai “aku”.

Demikian komunisme adalah kondisi common  bagi semua ketunggalan subyek, yakni semua perkecualian, semua poin tidak biasa yang jaringannya membentuk dunia) satu kemungkinan akal). Ia tidak dipunyai ke yang politis. Ia ada sebelum politik apapun. Ialah yang memberikan politik persyaratan mutlaknya: persyarataan membukanya ruang common ke yang common itu sendiri– yakni bukan ke yang privat atau ke yang kolektif, bukan ke pemisahan atau ke totalitas – tapi tanpa mengijinkan capaian politis dari yang common itu sendiri, segala jenis upaya memberikan substansi padanya. Komunisme pada prinsipnya adalah aktivasi dan pembatasan politik. Di poin ini menjadi penting untuk mempertanyakan tentang –isme-nya. Segala –isme menyiratkan sistem representasi, sejenis ideologisasi (dalam pengertian ideologi marxis maupun  Arendtian). Cartesianisme adalah ideologisasi dari dorongan asal Descartes.

Saya tidak mau masuk ke pertanyaan komunisme historis atau yang anehnya disebut, riil. Komunisme masih terancam menjadi ideologi dan harus menanggalkan -ismenya. Kata ini adalah komun tanpa -isme. Bahkan bukan komun – common, kommune, atau apapun yang bisa dianggap sebagai satu bentuk, struktur, representasi – melainkan com. Preposisi Latin cum dianggap sebagai preposisi universal, presuposisi segala macam eksistensi.

Ini bukanlah politik, ini metafisika atau, jika anda mau, ini adalah ontologi: mengada (being) adalah menjadi cum (to be is to be cum). (Pada saat saya menuliskan ini, saya dikepung oleh segerombolan pecinta sepak bola yang bernyanyi di satu plaza di Madrid : ada sekerumunan simbol, problem, perasaan tentang yang common). Tapi ia mengajukan pertanyaa ini pada politik: bagaimana cara memikirkan masyarakat, pemerintahan, hukum, tanpa cita-cita mencapai cum,  common, tapi dengan harapan ia akan datang dan mengambil kesempatan, kemungkinannya sendiri sendiri dalam berakal – jika, seperti yang ingin sarankan,  setiap akal berarti akal sehat (common sense) atau, jika bukan “common sense” dalam pengertian biasa kata itu, maka dalam arti bahwa setiap akal terdiri dari komunikasi, dari berbagi atau pertukaran. Tapi dari pertukaran yang bukan pertukaran pemilikan, melainkan pertukaran properti: di mana properti saya menjadi pantas (proper) oleh komitmennya sendiri; kadang ini disebut “cinta”, “pertemanan”, kadang “kesetiaan”, kadang “kehormatan”, kadang “seni”, kadang “pikiran”, bahkan kadang “hidup” dan “akal hidup” – di bawah semua nama ini tidak ada lain selain komitmen pada common.

Jika pertanyaan tentang komunisme adalah pertanyaan tentang properti – yakni, pertanyaan tentang properti yang bukan kolektif ataupun privat melainkan properti individu dan juga bersama, maka ia mengajukan satu pertanyaan ganda :

1). apa artinya menjadi “individu” dan “common” ? Bagaimana kita memahami “keindividuan dalam kebersamaan“ (the individuality of commmonness) dan komunitas keindividualan (the community of individualness)?

2). Bagaimana kita memikirkan kekayaan dan kemiskinan di ranah properti common-individu?

Untuk pertanyaan pertama saya mau menjawab dengan menyatakan bahwa ia harus diterima dalam pengertian singular plural, yang punya implikasi lain selain “individu-common”; saya tidak mau menjawab soal ini di sini (saya sudah menuliskan beberapa halaman tentang soal ini) ; tapi untuk sedikit menjelaskannya di sini saya kira singular-plural menghindar dari kesubtansian ganda  yang mungkin ada dalam “individual-common”)

Sedangkan untuk pertanyaan kedua, yakni mengenai kekayaan dan kemiskinan, isu ini jelas karena ia nyata-nyata disampaikan pada kita: kaya berarti punya lebih banyak dari yang dibutuhkan kehidupan bersama,  sedangkan miskin berarti punya lebih kurang. Perintah komun(is) pertama jelas perkara keadilan : memberi common apa yang dibutuhkan kehidupan bersama. Pada saat yang sama kebutuhan ini sederhana, nyata (sebenarnya, ia masuk dalam hak asasi manusia– yang walaupun demikian dapat dibahas  dari sudut pandang lain) – dan meski demikian tidak jelas: tidak ada perbedaan tegas dari kebutuhan ke hasrat atau keinginan. Maka perlu berpikir beda. Kita tidak hanya mengambil langkah pertama “kebutuhan” dan “pemuasannya” – meskipun jika, sudah barang tentu, kita benar-benar harus mempertimbangkan tingkat kepuasan mendasar atau minimum. Tapi kita juga harus mempertimbangkan bawa nirbatas juga ada di setiap kebutuhan dan merupakan esensinya. Kebutuhan perlu dilihat dari dorongan untuk memperoleh sesuatu (seperti roti, air atau ruang) tapi sebagai dorongan ke arah apa yang bukan sesuatu, dan mungkin juga bukan apapun – kecuali nirbatas.

Di sini kita sampai  – lagi-lagi… – di dekat kapitalisme, yakni nirbatas yang dianggap sebagai akumulasi hal-hal tanpa akhir (yang semuanya adalah ekuivalen dengan, sebagaimana dimungkinkan oleh akumulasinya, apa yang dinamakan uang – uang yang dengan sendirinya dianggao sebagai proses tanpa akhir mengumpulkan uang). Kapitalisme adalah ketiadaan-akhir alih-alih nirbatas, atau nirbatas adalah produksi tanpa akhir dari kapital itu sendiri.

Ini sudah merupakan, istilahnya, pilihan peradaban. Pada masa tertentu, (meskipun masa ini sudah diperpanjang sampai ke beberapa abad) peradaban barat sudah memilih ketiada-akhiran. Masa ini adalah masa di mana nirbatas sebagai yang secara absolut diterima di setiap eksistensi diubah menjadi nirbatas sebagai proses tanpa akhir ke arah akumulasi.

Sudah barang tentu ia juga terpaut dengan perubahan tentang kekayaan. Kontrol, regulasi pasar tidaklah cukup.

Tantangannya bukan hanya soal menata sistem produksi-konsumsi.

Ini adalah tentang makna kekayaan. Kekayaan dan kemiskina punya dua kegunaan dan makna. Satu bisa jadi berupa akumulasi vs disakumulasi, jika bisa saya katakan demikian, atau menjadi kaya vs pemiskinan. Di sisi lain bisa jadi apa yang saya namakan kemuliaan vs kerendahan hati. (“Si Rendah Hati” (The Humble), nama budi pekerti menjadi nama orang miskin…).

Barangkali kemenangan dan kerendahan-hati bahkan tidak bisa disebut sebagai kekayaan dan kemiskinan. Mereka saling terkait satu sama lain bukan seperti plus dengan minus, tapi seperti, katakanlah seorang biarawan dalam jubahnya yang sederhana di hadapan altar emas. Atau ketika saya mendengarkan kuartet-kuartetnya Beethoven.

Barangkali hubungan ini, yang penyebutannya yang sesuai adalah, pemujaan atau penyembahan, yang berupa satu doa dan juga salah satu bentuk cinta, tidak pernah berlangsung demikian adanya di masyarakat atau sudah tercampur dengan atau bertransformasi dalam oposisi antara kekayaan dan kemiskinan. Akan tetapi, pada  kenyataannya pasangan kaya/miskin tepat terbentuk pada masa pra-kapitalisme, yakni zaman Klasik, antara Plato – dan kritik pengumpulan uang oleh kaum sofis – dan Kristus – dengan penolakan kerasnya atas kekayaan. Zaman ini menjadi zaman pertama, dan mungkin terakhir bagi kritik kekayaan yang tidak lagi menganggapnya sebagai kemuliaan. Sebaliknya, anggapan atasnya sebagai kecemerlangan palsu par excellence.

Peradaban kita adalah peradaban yang skizoprenik, yang menganggap nilainya sendiri, nilai utamanya sendiri sebagai palsu.

Soal properti adalah soal properti yang pantas (proper property), yang dipunyai oleh “orang” yang pantas (proper “person”) : yakni, “kekayaan” yang pantas  (proper “wealth”) (atau “kemuliaan” – atau, seturut dengan itu, “akal” yang sepantasnya). Suatu properti yang pantas hanya bisa merupakan common. Sebagai privat, ia tidak masuk akal (karena yang tunggal bukanlah sama sekali akal); sebagai kolektif ia berdampak sama karena kolektif adalah kesatuan yang tunggal – mekanis – bukan kepluralan common.

Common adalah kata yang sesuai bagi kepantasan mengada (the properness of being), jika mengada (being) artinya secara ontologis mengada “dalam common (being “in common”).

(Diterjemahkan oleh Hamba Allah dari  Communism, The Word , Jean-Luc Nancy, Notes for the London Conference (Birbeck), Bentuk Typeset  Commoningtimes.)


[1] Persatuan dan komunitas sistem moral ekonomi akan menjadi peleton-peleton yang dimungkinkan di semua negara, tanpa kekayaan yang membingungkan,  mengingat  jasa-jasa yang pantas dari berbagai bakat,  artinya mereka belum mau mengakui para kaum Fanatik Republik-nya Plato. Ini menguatkan persahabatan manusia di masing-masing profesi, di luar semua perbedaan eksternal yang sia-sia dan menjijikan di kelas Warga yang sama: persaingan kekanak-kanakan yang membingungkan dan mengajarkan semua negara sampai pada kehancuran dan kejahatannya. Ini adalah penyalahgunaan fatal yang diobati dengan Hukum Ransum Raja Idomeneus  yang baik, yang menjadi model bagi dua Henri kita. Kaum Agape Kristen lama juga punya kecenderungan tujuan serupa, dengan mengajak Manusia ke dalam semangat kesederhanaan dan kepantasan dalam mempertahankan perdamaian dan agama. Dengan demikian, bagi seorang pangeran yang sebenarnya layak mendapat gelar Bapak Bangsa,  bahwa semua orang yang masih membela insititusi para rahib sebaiknya dibuat menjadi tidak berguna sekarang, dan menempatkan semua model yang benar dan baru ini di semua negara, masing-masing sesuai dengan fungsinya masing-masing, di berbagai biara yang semakin kurang penduduknya ini, tampaknya ke arah tujuan yang lebih baik.

Leave a Comment