Brian Massumi: Otonomi Afek (Bagian 1 dari 2)

I

Seorang lelaki membuat boneka salju di taman atapnya. Boneka salju itu mulai mencair di bawah terik matahari siang. Ia mengamati. Setelah beberapa lama, ia membawa boneka salju itu ke pegunungan di mana ia berhenti meleleh. Ia berpamitan lantas pergi.

Hanya gambar, tidak ada kata, sangat sederhana. Ini adalah cerita yang digambarkan dalam film pendek yang disiarkan oleh televisi Jerman sebagai selingan antar program. Film ini menimbulkan protes dari para orangtua yang mengatakan bahwa anak-anak mereka ketakutan. Berita ini menarik perhatian sekelompok peneliti. Studi lanjutan yang mereka lakukan menjadi terkenal karena gagal menemukan apa yang hendak  dicari: kognisi.[i]

Tim peneliti, yang diketuai Hertha Sturm, menggunakan tiga versi film tersebut: versi aslinya yang tanpa kata-kata dan dua versi yang dibubuhkan narasi suara (voice  over). Versi voice over  pertama disebut sebagai yang „faktual“. Versi ini ditambahkan dengan laporan selangkah demi selangkah tentang apa yang terjadi. Versi kedua disebut „emosional“. Sebagian besar versi ini mirip dengan versi yang pertama namun juga menyertakan, di beberapa titik balik yang krusial, kata-kata yang mengekspresikan muatan emosi dari adegan yang berlangsung.

Sekelompok anak usia sembilan tahun dites untuk mengingat dan diminta untuk mengurutkan versi yang mereka lihat melalui skala „menyenangkan“. Versi faktualnya secara konsisten masuk ke urutan paling tidak menyenangkan dan sekaligus yang paling tidak diingat. Yang paling menyenangkan dalah versi aslinya yang tanpa kata, yang masuk ke urutan sedikit di atas versi emosional. Dan yang paling diingat adalah versi yang emosional.

Ini saja sudah sedikit membingungkan. Hal yang lebih aneh lagi terjadi ketika subyek penelitian ini diminta untuk mengurutkan adegan-adegan yang ada di film secara individual dalam skala „senang-sedih“ dan skala „menyenangkan-tidak menyenangkan“. Adegan-adegan „sedih“ dinilai sebagai yang paling menyenangkan; semakin sedih semakin baik.

Hipotesis yang segera muncul adalah bahwa terjadi semacam protes anti-Freudian yang prematur, di mana anak-anak ini menyamakan rangsang dengan kesenangan. Tapi mengingat ini adalah studi empiris, anak-anak ini dihubungkan ke kabel. Reaksi psikologis mereka dimonitor. Versi faktual menunjukkan level rangsangan yang paling tinggi, meskipun ia juga yang paling tidak menyenangkan (yakni „senang“) dan meninggalkan kesan yang paling lama bertahan. Ternyata anak-anak ini mengalami keterpisahan secara psikologis: kefaktualan membuat jantung mereka berdetak lebih cepat dan membuat tarikan nafas mereka lebih dalam, tapi juga ia menurunkan daya resistensi kulit mereka. (Respon kulit galvanik mengukur reaksi otonomik.) Versi asli nonverbal menimbulkan reaksi terbesar di kulit mereka.

Dari nada laporan yang mereka sampaikan, tampaknya para peneliti ini sedikit terkejut dengan temuan yang mereka dapat. Mereka mengamati bahwa perbedaan antara kesedihan dan kesenangan tidaklah seperti yang disangka selama ini, dan khawatir jika perbedaan antara anak-anak dan dewasa juga tidak seperti yang diperkirakan (menimbang studi atas retensi dewasa pada siaran berita). Satu-satunya kesimpulan positif yang ditekankan adalah keutamaan yang afektif dalam persepsi citra.

Berdasarkan hal tersebut, perlu dicatat bahwa keutamaan yang afektif ditandai dengan kesenjangan antara konten dan efek: akan terlihat bahwa kekuatan atau durasi dari efek suatu citra tidak secara logis terhubung dengan konten dengan cara yang berbanding lurus.  Ini bukan untuk mengatakan bahwa tidak ada koneksi dan tidak logis. Yang dimaksudkan di sini oleh konten suatu citra adalah pengindeksannya pada makna konvensional dalam konteks intersubyektif, kualifikasi sosiolinguistiknya. Pengindeksan ini mematok kualitas tertentu dari suatu citra, kekuatan atau durasi dari efek citra tersebut dapat dinamakan sebagai intensitas. Yang muncul dari sini adalah tidak ada korespondensi atau kesesuaian antara kualitas dan intensitas. Jika  pun ada hubungan, maka sifatnya berbeda.

Untuk menerjemahkan amatan negatif ini menjadi sesuatu yang positif: peristiwa penerimaan citra adalah banyak tingkat, atau setidaknya dua tingkat. Ada pencabangan (bifurcation) yang segera dalam respon terhadap dua sistem. Level intensitas dicirikan dengan persilangan jaringan semantik: di sini, kesedihan menyenangkan. Level intensitas diatur dalam suatu logika yang tidak mengakui tengah yang dieksklusi (sebagai urutan terakhir dalam tiga prinsip logika klasik, hukum tengah yang diekslkusi (excluded middle)  menyatakan bahwa bagi suatu proposisi, bisa proposisi itu yang bera atau negasinya yang benar. pen). Dengan kata lain, ia tidak diatur secara semantik atau semiotik. Ia tidak menetapkan distingsi. Alih-alih, secara samar namun ngotot, ia menghubungkan apa yang normalnya diindekskan sebagai terpisah.  Jika diminta untuk men-signifikasikan dirinya sendiri, maka ia hanya bisa muncul sebagai paradoks. Ada keterputusan dalam tata signifikasi dari intensitas-yang melahirkan tatanan berbeda dari hubungan yang bekerja secara paralel.  Kesenjangan yang tadi disebutkan bukan hanya antara konten dan efek. Ia juga hadir antara bentuk konten- signifikasi sebagai sistem konvesional untuk perbedaan distingtif- dan intensitas. Keterputusan antara bentuk/konten dan intensitas/efek bukan hanya negatif: ia memungkinkan keterhubungan yang berbeda, perbedaan yang berbeda, secara paralel.

Kedua level, intensitas dan kualifikasi, segera ditubuhkan. Intensitas ditubuhkan dalam reaksi yang murni otonom yang paling segera terlihat di kulit- di permukaan tubuh, dalam antarmukanya dengan benda-benda. Reaksi kedalaman lebih dipunyai level bentuk/konten (kualifikasi), meskipun mereka melibatkan fungsi-fungsi otonomik seperti detak jantung dan pernafasan. Ini mungkin karena mereka dihubungkan dengan ekspetasi, yang tergantung pada bagaimana orang memposisikan dirinya sendiri dalam suatu lini kontinuitas naratif. Modulasi dari detak jantung dan nafas menandai gelombang surut kesadaran ke dalam kedalaman otonomik,  berjajar dengan naiknya yang otonom ke kesadaran. Mereka adalah gabungan otonomik sadar, ukuran partisipasinya atas satu sama lain. Intensitas adalah di luar putaran ini,  suatu nirsadar, sisa otonomik yang tidak akan sadar. Ia di luar ekspetasi dan adaptasi, sama tak terhubungnya dengan pengurutan bermakna, dari narasi, dan juga dari fungsi kehidupan.  Secara naratif ia di-delokalisasi, menyebar ke seluruh permukaan tubuh seperti arus balik yang menyebar/menyamping dari antar putaran fungsi-makna yang bergerak menempuh jalur vertikal antara kepala dan hati.

Bahasa, meskipun keras kepala, bukanlah sekedar bertolak belakang dengan intensitas. Bahasa tampaknya berfungsi secara berbeda dalam hubungannya dengan intensitas. Versi faktual dari cerita boneka salju adalah  meredakan. Keadaan apa adanya (kefaktualan) meredakan intensitas. Dalam kasus ini, kefaktualan menggandakan rangkaian citra dengan narasi yang mengekspresikan, -dengan cara yang seobyektif mungkin, fungsi nalar awam dan makna konsensual dari gerakan-gerakan yang dilihat di layar. Hal ini mengintervensi efek citra. Versi emosional menambahkan beberapa frase yang menekankan lini naratif dengan kualifikasi konten emosional, berlawanan dengan konten naratif-obyektif. Kualifikasi dari konten emosional menguatkan efek citra, seakan mereka menggemakan level intensitas ketimbang mengintervensinya. Kualifikasi emosional memutuskan kontinuitas naratif untuk sementara, demi memaknai suatu keadaan- sebenarnya memaknai ulang keadaan yang sudah dirasakan, karena kulit lebih cepat dari kata.

Hubungan antara tingkat-tingkat intensitas dan kualifikasi bukanlah bersesuaian atau korespondensi  tapi merupakan penggemaan (resonansi) atau intervensi, amplifikasi atau peredaan. Ekspresi linguistik dapat meresonasikan dengan dan mengamplifikasi  intensitas namun dengan meresikokan fungsinya sendiri menjadi sekedar redundansi (keadaan berlebih dan tak berguna. Pen).  Ketika sebaliknya ekspresi linguistik menggandakan rangkaian gerakan demi menambahkan sesuatu padanya  dalam cara progresi yang bermakna- dalam kasus ini ekspetasi yang kurang lebih pasti, suatu pengintiman pada apa yang terjadi setelahnya dalam progresi konvesional- maka ia berhadapan dengan dan meredakan intensitas. Intensitas tampaknya lebih dikaitkan dengan proses-proses nonlinear: resonansi dan umpan balik yang secara sementara menggantung progresi linear dari masa kini naratif dari masa lalu dan masa depan. Intensitas dapat dikualifikasikan sebagai kondisi emosional, dan kondisi itu adalah statis-bunyi temporer dan naratif. Ia adalah kondisi ketegangan, yang berpotensi mengalami disrupsi. Ia seperti wastafel temporal, sebuah lubang dalam waktu, seiring dengan pemahaman kita atasnya dan seiring kita menarasikannya. Ia bukanlah benar-benar kepasifan, karena ia penuh dengan gerak, gerak bergetar, resonansi. Dan ia belumlah suatu aktivitas, karena gerakannya bukan jenis yang bisa diarahkan (kalaupun hanya simbolik) ke arah tujuan praktis di dunia obyek-obyek dan tujuan yang sudah terbentuk (kalaupun hanya di layar). Tentu saja kualifikasi suatu emosi cukup sering, di lain konteks,  dengan sendirinya adalah satu unsur naratif yang menggerakan suatu aksi ke depan, berlangsung dalam lini aksi dan reaksi yang diakui secara sosial. Tapi jika demikian yang terjadi, ia bukanlah resonansi dalam intenstitas. Ia meresonansikan sampai derajat tertentu di mana ia adalah suatu ekses dari lini naratif dan fungsional.

Bagaimanapun juga, bahasa menggandakan aliran citra ke tingkat yang lain, di jalur yang berbeda. Terjadi redundansi resonansi yang membesarkan atau mengamplifikasi (diskoneksi umpan balik, memungkinkan terjadinya keterhubungan yang berbeda) dan redundansi signifikasi yang menggelar atau melinearkan (melompati putaran umpan balik antara fungsi dan makna vital menjadi lini-lini aksi dan reaksi yang dirayakan secara sosial.  Bahasa adalah bagian dari tatanan yang sama sekali berbeda berada pada tatanan yang sama sekali berbeda tergantung pada redundansi yang diperankannya. Dengan kata lain, ia selalu memerankan kurang lebih secara komplit: dua bahasa, dua dimensi  dari setiap ekspresi, yang satunya superlinear, yang lain linear. Setiap peristiwa  terjadi di tiap level-dan di antara dua level, karena mereka meresonansikan bersama-sama  untuk membentuk satu sistem lebih besar yang terdiri dari dua subsistem yang berinteraksi dan mematuhi aturan formasi yang sama sekali berbeda. Agar lebih jelas, mungkin sebaiknya memberikan nama yang berbeda pada kedua bagian dari peristiwa tersebut. Dalam kasus ini, suspensi dapat dibedakan dari dan saling terkait dengan ekspetasi  sebagai dimensi-dimensi superlinear dan linear dari peristiwa-citra yang sama, yang pada saat bersamaan merupakan peristiwa-ekspresi.

Pendekatan-pendekatan pada citra dalam hubungannya dengan bahasa tidaklah lengkap jika mereka hanya beroperasi di level semantik atau  semiotik, namun level ini ditentukann (secara linguistik, logis, naratologis, ideologis, atau gabungan dari ini semua, sebagai suatu Simbolik). Apa yang hilang adalah, tepatnya, ekspresi dari peristiwa-demi mengedepankan struktur. Ada lebih banyak yang bisa diraih dengan mengintegrasikan intensitas ke dalam teori budaya. Taruhannya adalah yang baru. Karena struktur adalah tempat di mana segala sesuatu tidak terjadi, surga eksplanatoris yang di dalamnya semua permutasi peristiwa sudah diperkirakan dalam serangkaian aturan generatif invarian yang konsisten dalam dirinya sendiri.  Tak ada satupun yang sudah diperkirakan dalam peristiwa.  Ia adalah ambruknya distingsi struktur ke dalam intensitas, leburnya aturan ke dalam paradoks. Ia adalah suspensi invarian yang membuat senang menjadi senang, sedih menjadi sedih, fungsi berfungsi, dan makna bermakna. Mungkinkah bahwa yang baru muncul dari ketegangan melalui suspensi penuh harap? Seolah sebuah gema dari ekses yang tak tereduksikan, dari amplifikasi yang tanpa alasan, mendompleng pada rekoneksi ke progresi, membawa semburat dari yang tak terduga, yang lateral, yang tak bermotif, ke lini aksi dan reaksi. Suatu perubahan pada aturan. Peristiwa- ekspresi adalah sistem dari yang tak terjelaskan: kemunculan, menuju dan menolak regenerasi (reproduksi suatu struktur). Di kasus manusia salju, yang tak terduga dan tak terjelaskan yang muncul di sepanjang respon yang dilahirkan terkait dengan perbedaan antara kesenangan dan kesedihan, anak-anak dan dewasa, tidak lah seretak seperti yang tampak, sesuatu yang pastinya mengecewakan secara ilmiah: suatu perubahan dalam peraturan. Intensitas tidak dapat diasimilasikan.

Untuk kepentingan pembacaan kali  ini, intensitas akan disamakan dengan afek. Tampaknya tumbuh satu perasaan di media, sastra dan teori seni bahwa afek merupakan hal penting dalam pemahaman kita atas budaya lanjut kapitalis kita yang berbasis informasi dan citra, di mana mereka yang disebut narasi-narasi utama dianggap sudah ditenggelamkan. Tanpa mengesampingkan Fredric Jameson,  keyakinan mungkin sudah pudar bagi banyak orang, tapi lain halnya dengan afek.  Malah kondisi kita dicirikan dengan sebuah kelimpahan afek. Soalnya adalah tidak ada kosa kata teoretis-kultural yang spesifik mengangkat afek.[ii]  Seluruh kosa kata kita diturunkan dari teori signifikansi yang masih dikawinkan dengan struktur, bahkan melintasi perbedaannya yang tak terdamaikan (proses perceraiannya pascastrukturalisme: dapat atau tidak dapat diakhiri?). Dengan absennya filsafat afek yang asignifying (konsep yang diajukan Deleuze & Guattari yang merujuk pada bentuk  operasi yang memanipulasi unsur-unsur sedemikian rupa sehingga tidak melibatkan signifikasi atau pemaknaan. pen), terlalu mudah bagi kategori-kategori psikologis yang sudah mapan untuk menyelinap masuk, membatalkan banyak kerja dekonstruktif yang telah dengan efektif dikibarkan oleh para kaum pascastrukturalis. Secara longgar, afek sering disinonimkan dengan emosi.[iii] Tapi salah satu pelajaran paling jelas dari cerita pertama ini adalah emosi dan afek- jika afek adalah intensitas-mengikuti logika yang berbeda dan berkenaan dengan tatanan yang berbeda pula.

Emosi adalah suatu konten subyektif, penetapan sosiolinguistik atas kualitas suatu pengalaman yang semenjak itu didefinisikan sebagai personal. Emosi adalah intensitas yang dikualifikasikan, yang konvesional, poin masuk intensitas yang dikonsensuskan ke proses yang dibentuk secara semantik dan semiotik, menjadi sirkuit-sirkuit aksi-reaksi yang dapat dinarasikan, ke dalam fungsi dan makna. Ia adalah intensitas yang diakui dan dikenali. Penting untuk meneorikan perbedaan antara afek dan emosi. Jika ada yang beranggapan bahwa afek sudah memudar, itu karena afek tidak terkualifikasi. Dan karenanya, ia tak dapat diakui dan dikenali, dan dengan demikian resisten terhadap kritik.

Bukannya tidak ada pendahulu filosofis yang bisa ditarik di sini. Hanya saja mereka bukan rujukan yang biasa dipakai dalam kajian satra dan budaya. Di banyak poin ini, ada satu pendahulu filosofis yang tangguh: mengenai perbedaan antara hakikat afek dan emosi; mengenai afek sebagai suspensi  dari sirkuit-sirkuit aksi-reaksi dan temporalitas linear dalam wastafel yang dinamakan sebagai „passion“ (gairah) untuk membedakannya dengan pasifitas dan aktifitas; mengenai penyamaan antara afek dan efek; mengenai bentuk/isi dari wacana konvensional sebagai pembentuk suatu lapisan yang terpisah  yang berlawanan dengan pencatatan sepenuhnya atas afek dan afirmasi, perkembangan positifnya, pengekspresiannya sebagai dirinya sendiri dan untuk dirinya sendiri. Dari semua poin ini, nama Baruch Spinoza lah yang mengemuka.Judul kaya utamanya menandai tujuan bagi proyek pemikiran tentang afek: Ethics.[iv]

II

Cerita lainnya. Kali ini tentang otak: misteri tentang setengah detik yang hilang.

Beberapa eksperimen dilakukan pada pasien yang ditanam dengan elektroda kortikal untuk kepentingan medis. Kejutan listrik yang lembut dikirim lewat elektroda tersebut dan juga ke titik-titik tertentu di kulit. Di masing-masing kasus, stimulasi  hanya akan terasa jika ia dilakukan lebih dari setengah detik: setengah detik, selang waktu minimum yang teramati. Jika elektroda kortikal tersebut ditembakkan setengah detik sebelum kulit dirangsang, pasien melaporkan bahwa dia merasakan denyutan di kulitnya terlebih dulu. Peneliti berspekulasi bahwa sensasi tersebut melibatkan „arah terbalik dalam waktu“- dengan kata lain, sensasi ini disusun secara berulang-ulang sebelum tersusun secara linear, sebelum ia diarahkan kembali ke luar dan masuk ke rantai sadar aksi dan reaksi. Otak dan kulit  membentuk bejana resonansi. Stimulasi bergerak ke dalam, dilipat ke dalam tubuh, hanya saja tidak ada tak ada sebelah dalam yang menjadi tempat tujuannya, karena tubuh secara radikal terbuka, menyerap impuls lebih cepat dari yang dapat dirasakan, dan karena seluruh momen getar ini tidak sadar, di luar pikiran. Anomalynya dimuluskan secara retrospektif agar cocok dengan kebutuhan kesadaran akan kontinuitas dan kausalitas linear.[v]

Apa yang terjadi selama setengah detik yang hilang? Suatu eksperimen kedua memberi beberapa petunjuk.

Gelombang otak dari sukarelawan yang sehat dimonitor olehh mesin electrocephalograph (EEG). Para subyek ini diminta untuk merenggangkan satu jari di momen yang mereka tentukan sendiri dan mengingat waktu ketika mereka mengambil keputusan tersebut dengan memperhatikan posisi titik yang berputar di jam spasial. Gerakan ini terjadi 0.2 detik setelah mereka menentukan waktu pengambilan keputusan, tapi mesin EEG mencatat suatu aktivitas otak yang signifikan 0.3 detik sebelum keputusan diambil. Sekali lagi, ada selang waktu setengah detik antara permulaan peristiwa tubuh dan akhirnya dalam ekspresi secara aktif yang diarahkan ke luar.

Ketika peneliti Benjamin Libet ditanya apa implikasi temuan ini pada doktrin kehendak bebas, ia menyatakan bahwa „kita bisa mengerahkan kehendak bebas bukan dengan menginisiasi intensi melainkan dengan memveto, menyetujui atau meresponnya setelah mereka muncul.“[vi]

Dengan kata lain, setengah detik itu hilang bukan karena ia kosong, melainkan karena ia kepenuhan, sebagai turah dari aksi yang benar-benar dilakukan dan makna yang dikenakan padanya. Kehendak dan kesadaran adalah subtraktif. Mereka limitatif, fungsi derivasi yang mereduksi suatu kompleksitas yang terlalu berlimpah agar bisa secara fungsional diekspresikan. Perlu dicatat bahwa khususnya selama setengah detik yang misterius itu, apa yang kita anggap sebagai fungsi-fungsi „bebas“, „lebih tinggi“, seperti kemauan, tampaknya dilakukan oleg reaksi tubuh yang otonom, terjadi di otak tapi di luar kesadaran, dan antara otak dan jari namun sebelum aksi dan ekspresi. Formasi kemauan serta merta ditemani dan dibantu dengan fungsi-fungsi kognitif. Mungkin para peneliti manusia salju di cerita pertama kita tidak dapat menemukan kognisi karena mereka mencarinya di tempat yang salah- dalam „pikiran“ ketimbang di tubuh“ yang mereka monitori. Percakapan tentang intensitas tidak dapat dipungkiri lagi mengajukan keberatan bahwa pemahaman tersebut melibatkan imbauan ke ranah prarefleksif dan mentah yang romantis dari kekayaan eksperiensial primitif- hakikat dari budaya kita. Bukan itu. Pertama, karena sesuatu terjadi di luar pikiran dalam tubuh yang dengan segera menyerap keluarannya tidaklah secara tepat dapat dikatakan sebagai dialami. Kedua, karena kemauan, kognisi dan fungsi-fungsi yang dianggap „lebih tinggi“ lainnya dan sering disangka ada dalam pikiran, digambarkan sebagai suatu wadah misterius dari entitas-entitas mental yang sepertinya terpisah dari tubuh dan otak, hadir dan aktif dalam ranah yang tidak begitu „mentah“ itu. Resonansi mengandaikan umpan balik. „Fungsi-fungsi lebih tinggi“ yang masuk ke dunia bentuk/isi yang terkualifikasi di mana di dalamnya orang-orang yang teridentifikasi dan berekspresi diri berinteraksi dalam sirkuit aksi-reaksi yang dikonvensionalkan, mengikuti lini masa yang linear di umpan-balikkan ke dunia intensitas dan kausalitas berulang. Tubuh tidak hanya menyerap detak-detak atau rangsangan yang berlainan; ia melipat konteks, ia melipat kehendak dan kognisi yang bukan apapun jika tidak dikondisikan. Intensitas adalah asosial, tapi bukan prasosial-ia memasukkan unsur-unsur sosial tapi mencampurnya  dengan unsur-unsur lain yang dimiliki level fungsionalisasi yang lain dan menggabungkannya berdasarkan logika yang berbeda. Bagaimana bisa demikian? Hanya jika jejak tindakan masa lalu,  termasuk jejak dari konteksnya,  diawetkan dalam otak dan daging, tapi di luar pikiran dan di luar tubuh dipahami sebagai interioritas yang dapat dikualifikasi, masing-masing sebagai aktif dan pasif, jiwa yang langsung dan materi yang bebal. Hanya jika tindakan dan konteks masa lalu diawetkan dan diulang, diaktivasi ulang secara otonom tapi bukan dicapai; dimulai tapi tidak dirampungkan. Intensitas adalah kebermulaan (incipience), tindakan dan ekspresi yang baru dimulai. Intensitas bukan hanya kebermulaan. Ia juga merupakan permulaan dari seleksi: permulaan dari jalur-jalur aksi dan ekspresi yang terpisah, dari semua hanya satu yang akan dihuni, dicegah dari mengaktualisasikan dirinya sepenuhnya. Kerumunan pengejar aktualisasi condong ke arah penyelesaian dalam konteks selektif yang baru. Kebaruannya berarti bahwa kebermulaan mereka tidak bisa hanya  soal pengawetan dan aktivasi ulang dari masa lalu. Mereka adalah tendensi- dengan kata lain ke-masalalu-an yang terbuka langsung ke suatu masa depan, tapi tanpa masa kini untuk dibicarakan. Karena masa kini hilang bersama setengah detik yang hilang, berlalu terlalu cepat untuk diamati, bahkan terlalu cepat untuk terjadi.

Ini membuat kita harus berpikir ulang tentang tubuh. Sesuatu yang terlalu cepat untuk terjadi, sebenarnya, adalah yang virtual. Tubuh dengan segera menjadi virtual sebagaimana ia juga aktual. Yang virtual, desakan kerumunan kebermulaan dan tendensi, adalah dunia yang potensial. Dalam pontensial lah ke-masadepan-an bercampur, tanpa mediasi, dengan ke-masalalu-an, di mana luar dilipat ke dalam dan kesedihan adalah kesenangan (senang karena tekanan untuk bertindak dan ekspresi adalah kehidupan). Yang virtual adalah paradox yang dihidupi di mana yang biasanya berlawanan, berkoeksistensi, bergerumul, dan berhubungan; di mana yang tidak dapat dialami tidak bisa tidak dirasakan- seberapaun tereduksi dan tertahan. Karena dari desakan kerumunan satu tindakan atau ekspresi individu akan muncul dan dikenali di kesadaran. Orang „menghendaki“-nya untuk muncul, untuk dikualifikasi, untuk mengambil makna sosiolinguistik, untuk masuk ke sirkuit aksi-reaksi, untuk menjadi konten bagi kehidupannya- berkat menahan diri.

Karena yang virtual tidak dapat dihidupi meskipun sedang berlangsung , ia bisa dipahami sebagai bentuk abstraksi superlinear yang tidak mematuhi hukum tengah yang dieksklusi, ia diatur secara berbeda namun tidak terpisahkan dengan aktivitas dan ekspresivitas kongkrit tubuh. Tubuh dengan segera adalah abstrak maupun kongkrit; aktivitas dan ekspresivitasnya meluas, sebagaimana pula sisi bawahnya, menjadi yang dimensi inkorporeal, namun sepenuhnya riil, dari potensial yang menekan.

Adalah Henri Bergson yang menjadi pemrakarsa filosofis dari banyak poin ini: otak sebagai pusat indeterminasi; kesadaran sebagai subtraktif dan penahan; persepsi sebagai yang bekerja dalam melipat tindakan dan ekpresi yang meluas, dan kesituasiannya, ke dalam dimensi intensitas atau intensi sebagai lawan dari ekstensi; pengandaan berlanjut dari tubuh aktual oleh dimensi intensitas ini, dipahami sebagai dunia superlinear, superabstrak dari potensial; dunia yang virtual ini sebagai yang punya struktur temporal berbeda, di mana masa lalu dan masa kini bahu membahu tanpa mediasi masa kini, dan sebagai yang punya kausalitas berbeda dan berulang; yang virtual yang berpuncak di dunia kemunculan yang liminal, di mana  tindakan dan ekspresi yang separuh diaktualisasi menandak seperti ombak di lautan yang segera surut kembali.[vii]

Akan menguntungkan untuk membaca Bergson bersama dengan Spinoza. Salah satu definisi dasar Spinoza tentang afek adalah „afeksi (dengan kata lain pengenaan atas) tubuh, dan pada saat yang bersamaan gagasan tentang afeksi“ (penekanan ditambahkan). Definisi ini mulai terkesan sangat Bergsonian jika kita amati bahwa tubuh , ketika dikenakan atasnya, digambarkan oleh Spinoza  berada dalam keadaan suspensi passional di mana di dalamnya ia hadir lebih di luar dirinya sendiri, lebih pada tindakan terabstraksi dari benda pengena dan konteks terabstraksi dari tindakan tersebut, ketimbang dalam dirinya sendiri, dan jika diamati bahwa gagasan yang sedang dipersoalkan bukanlah hanya soal tidak sadar melainkan di saat pertama dalam „pikiran“.

Dalam Spinoza, hanya ketika gagasan afeksi digandakan oleh gagasan mengenai gagasan afeksi  maka ia mencapai level refleksi kesadaran. Refleksi kesadaran adalah penggandaan atas gagasan tentang dirinya sendiri, sebuah pengulangan diri dari gagasan yang membungkus si afeksi atau pengenaan pada dua pemindahan. Karena ia sudah dipindah pertama kali oleh tubuh itu sendiri. Tubuh melipat efek dari pengenaan- ia mengawetkan pengenaan minus si benda pengena, pengenaan diabstraksikan  dari tindakan aktual yang menyebabkannya dan konteks aktual dari tindakan tersebut. Ini adalah gagasan urutan pertama yang diproduksi secara spontan oleh tubuh: si afeksi dengan segera dan spontan  digandakkan oleh jejak yang dapat diulang dari sebuah perjumpaan, „bentuk“ dari perjumpaan, menurut istilah Spinoza (sebuah pelipatan ke dalam, atau kontraksi, dalam konteks kosa kata dalam esain ini). Jejak menentukan suatu tendensi, yang potensial, jika bukan hasrat, kepada repetisi dan variasi otonomik dari pengenaan. Refleksi sadar adalah penggandaan atas abstraksi dinamik ini pada dirinya sendiri. Urutan koneksi dari abstraksi dinamik di kalangan mereka sendiri, di level yang spesifik bagi mereka, dinamakan pikiran. Tendensi otonomik yang diterima tangan kedua dari  tubuh dinaikkan ke kekuatan yang lebih tinggi untuk menjadi aktivitas pikiran. Pikiran dan tubuh dilihat sebagai dua level yang merekapitulasi peristiwa citra/ekspresi yang sama dalam cara-cara yang berbeda namun paralel, menanjak menurut derajat dari yang kongkrit ke yang korporeal, berpegang pada pusat yang sama absennya dari perjumpaan yang kini menghantui dan dipotensialkan. Etika Spinoza adalah filsafat menjadi-aktifnya secara paralel pikiran dan tubuh, dari asal mulanya  dalam gairah, dalam pengenaan, dan reseptivitas yang begitu murni dan produktif  sehingga ia hanya bisa dipahami sebagai keadaan ketiga, tengah yang dieksklusi, sebelum pembedaan antara aktivitas dan pasivitas: afek. „Asal mula“ ini tidak pernah benar-benar ditinggalkan, tapi menggandakannya seperti bayangan yang selalu hampir terlihat, dan tidak bisa tidak dilihat, sebagai efek.

Di arah yang berbeda namun komplementer, ketika Spinoza mendefinisikan pikiran dan tubuh sebagai tatanan hubungan yang berbeda, atau rezim gerak dan henti yang berbeda, pemikirannya menunjukkan tautan penting denag teori Bergson tentang virtualitas dan gerakan.

Adalah Gilles Deleuze yang membuka kembali jalan ke penulis-penulis ini, meskipun ia tidak memadankan mereka secara langsung yang satu dengan yang lain. Karyanya dan karya mereka akan bermanfaat jika dibaca bersamaan dengan teori-teori mutakhir tentang kompleksitas dan chaos.[viii] Ini adalah soal kemunculan (emergence), yang persis merupakan fokus dari teori-teori ilmiah derivatif yang beririsan di sekitar pengertian pengorganisasian diri (produksi spontan  dari suatu level realitas punya peraturan formasinya dan tatanan koneksinya sendiri). Afek atau intensitas di pemahaman masa kini mirip dengan apa yang disebut poin kritis, atau suatu titik bifurkasi, atau titik tunggal, dalam teori chaos dan teori struktur-struktur lesapan (dissipative structures).  Ini adalah titik balik di mana suatu sistem fisik secara paradoksal menubuhkan potensial yang banyak dan biasanya saling terpisah, hanya satu yang „dipilih“. „Ruang fase“ (Phase space)  dapat dilihat sebagai penggambaran diagramatik dari dimensi virtual. Pengorganisasian dari banyak level yang punya logika dan pengaturan temporal yang berbeda, tapi dikunci dalam resonansi antara satu dengan yang lain dan merekapitulasi peristiwa yang sama dalam cara yang berpisah, mengingatkan pada ontologi fraktal dan kausalitas nonlinear yang mendasari teori kausalitas.

Level-level yang bermain dapat dilipatgandakan sampai ke tanpa batas: sudah disebutkan adalah tubuh dan pikiran , tapi juga kemauan dan kognisi, setidaknya dua tatanan bahasa, ekspetasi dan suspensi, kedalaman tubuh dan epidermis, masa lalu dan masa depan, aksi dan reaksi, kegembiraan dan kesedihan, kediaman dan rangsangan, pasivitas dan aktivitas, dan seterusnya.  Ini bisa dilihat bukan sebagai oposisi biner atau kontradiksi, tapi level-level yang beresonansi. Afek adalah titik kemunculannya, dalam kespesifikannya yang aktual, dan titik hilangnya, dalam ketunggalan, dalam koeksistensi dan interkoneksi virtualnya-titik kritis yang membayangi setiap peristiwa citra/ekspresi. Meskipun dunia intensitas yang hendak dikonseptualisasikan filsafatnya Deleuze adalah transendental dalam pengertian  bahwa ia tidak secara langsung dapat diakses pengalaman, ia bukan lah transenden, ia juga tidak berada di luar pengalaman. Ia adalah imanen baginya- selalu di dalamnya tapi bukan darinya. Intensitas dan pengalaman saling menemani seperti dua dimensi yang saling mengandaikan  atau seperti dua sisi mata uang. Intensitas adalag imanen bagi benda dan bagi peristiwa, bagi pikiran dan tubuh, dan pada setiap level pemisahan yang menyusunnya dan yang disusunnya. Dengan demikian, ia tidak bisa tidak dialami, dalam efek-dalam persebaran level-level organisasi tanpa henti ia membangkitkan, melahirkan dan meregenerasi, di setiap momen yang disuspensi.[ix] Filsafat Deleuze adalah poin di mana filsafat transendental berjungkirbalik menjadi imanentisme, dan empirisme menjadi eksperimentasi etis. Perintah Kantian untuk memahami kondisi-kondisi pengalaman yang mungkin seakan ia dari luar dan di atas beralih mejadi sebuah undangan untuk merekapitulasi, mengulang, dan merumitkan, di level dasar, kondisi-kondisi nyata dari kemunculan, bukan dari yang kategoris, tapi dari yang tidak terkualifikasikan, tak terasimilasikan, yang belum-tidak pernah dirasakan, yang dirasakan kurang dari setengah detik, sekali lagi untuk pertama kalinya- yang baru. Kant bertemu dengan Spinoza, di mana idealisme dan empirisisme menjadi pragmatis, menjadi pembidanan penemuan-tanpa kehilangan dalam kuasa abstraktif atau induktif. Justru sebaliknya-keduanya ditinggikan. Tapi kini abstraksi sinonim dengan dibebaskannya potensial, ketimbang dikurangi. Dan kesan induksi telah berubah, menjadi dipicunya  proses penataan diri yang semakin kompleks. Etika yang tersirat  dari proyek ini adalah nilai yang dilampirkannya- tanpa pondasi, hanya dengan hasrat-ke multiplikasi kuasa eksistensi, ke rezim tindakan dan ekspresi yang selalu berbeda.

*Diterjemahkan oleh Ferdiansyah Thajib dari Brian Massumi, 2002. “The Autonomy of Affect.” dari Parables for the Virtual: Movement, Affect, Sensation.Duke University Press Durham & London. Hal. 23-45.

Catatan Kaki


[i] Herta Sturm, Emotional Effects of Media: The Work of Hertha Sturm, Gertrude Joch Robinson (Ed.), Kertas Kerja dalam Komunikasi (Montreal: McGill University Graduate Program in Communications, 1987), 25-37.

[ii] Tesis pudarnya afek dalam esai klasik-nya Jameson tentang pascamodern secara telak mengangkat isu afek dalam teori budaya. „The Cultural Logic of Late Capitalism“ dalam Postmodernism; or, The Cultural Logic of Late Capitalism (Durham, N.C:Duke University Press, 1992). Esai kali ini banyak bersinggungan dengan karya Grossberg, termasuk keyakinan bahwa afek justru semakin merajalela ketimbang pudar. Perbedaan dengan Grossberg akan dijumpai dalam catatan setelah ini.

[iii] Grossberg banyak tergelincir ke penyamaan antara afek dan emosi, meskipun ia udah mengajukan perbedaan definisi antara keduanya. Ketergelinciran ini dimulai dengan definisi itu sendiri, ketika afek didefinisikan secara kuantitatif sebagai kekuatan dari investasi dan secara kualitatif sebagai hakikat dari suatu perhatian (82). Ini dilakukan demi menghindar dari anggapan menjebak bahwa afek adalah tak berbentuk dan tak berstruktur, satu langkah yang dikhawatirkan oleh Grossberg dapat menyulitkan upaya analisis. Dinyatakan di sini bahwa afek memang tidak berbentuk dan berstruktur, akan tetapi ia sangat terorganisir dan dapat dianalisis secara efektif (ia tidak sepenuhnya dapat diwadahi dalam pengetahuan, tapi dapat dianalisis dalam efek, sebagai efek). Poin pentingnya adalah bahwa bentuk dan struktur bukanlah satu-satunya moda diferensiasi yang dapat dilakukan. Di sini, afek dilihat sebagai sebelum atau bagian dari yang kualitatif (dipahami dengan ciri-ciri yang sudah ditentukan), dan oposisinya dengan yang kuantitatif, dan dengan demikian secara mendasar bukan soal investasi. (Jika model termodinamika diberlakukan, maka ia bukan klasik melainkan kuantum dan jauh dari ekuilibrium; tentang ini lihat bagian selanjutnya).

[iv] Referensi ke wacana konvensional dalam Spinoza ada pada apa yang disebutnya sebagai „pengertian universal“ (universal notions, konsep klasifikatif yang mengatributkan sifat-sifat strutural penentu pada benda-benda dan mematuhi hukum tengah yang dieksklusi) dan „pengertian transendetal“ (trancendental notions, konsep teleologis yang menjelaskan suatu benda dengan mereferensikan pada satu awal atau akhir dengan cara-cara yang dibatasi oleh bentuknya). The Ethics, IIP40SI, dalam The Collected Works of Spinoza, vol. I, disunting dan diterjemahkan oleh Edwin Curley (Princeton: Princeton University Press, 1985), 445-77.

[v] Karakter retrospektif dari atribusi tentang kausalitas linear dan konsitensi logis dianalisis oleh Henri Bergson dalam penjelasannya tentang  „gerak retrograd kebenaran“ (retrogade movement of truth). Lihat The Creative Mind, pen. Mabelle L. Audison (New York: Philosophical Library, 1946) 27-28, 107-25.

[vi] John Horgan, „Can Science Explain Consciousness?“ Scientific American, Juli 1994, 76-77 (penekanan ditambahkan). Lihat Benjamin Libet, „Unconcious Cerebral Initiative and the Role of Conscious Will in Voluntary action,“ Behavioral and Brain Sciences 8 (1985):529-66. Esai Libet dilengkapi dengan laporan panjang yang memuat respon-respon di lapangan.

[vii] Lihat khususnya Matter and Memory, pen. N.M. Paul dan W.S. Palmer (New York: Zone books, 1988).

[viii] Buku terakhir Felix Guattari membahas pertemuan antar karya solonya dan dengan Deleuze, dan teori chaos. Chaosmosis:An Ethico-Aesthetic Paradigm. Pen. Paul Bains dan Julian Pefanis (Bloomington: Indiana University Press, 1995)

[ix] Dalam memahami bahwa intensitas adalah perbedaan kualitatif yang muncul di mulai di bab kedua di bawah kosa kata seputar kualitas  dan intensitas yang membuka ba ini akan mulai bermutasi. Istilah „kuasi kualitatif “ (quasi qualitative) akan digunakan untuk menbedakan intensitas, sebagai suatu penanda atau perbedaan penataan dalam pembentukan, dari kualitas yang sudah muncul, yang sudah didefinisikan, ditentukan. Masuk ke bab 9, istilah ini akan berubah dengan signifikan. Intensitas akan mengambil alih label dari yang kualitatif dan, untuk memberi ruang bagi  ini, kualitas yang ditentukan akan di label ulang sebagai „atribut“ atau „sifat“. Perubahan ini dibutuhkan karena berubahnya konteks yang menyatakan pembedaan antara yang kuantitatif dan kualitatif, ketimbang, seperti dalam bab ini, distingsi antara intensitas di satu sisi dan signifikansi dan pengaturan fungsional di sisi lain. Cara di mana intensitas demikian meberi umpan laju ke dalam persepsi sadar dan level pengaturan-moda-moda tampakan virtualnya-akan dibahas di bab 6, 7 dan 9.

Leave a Comment