Mencangking Teori Kantung untuk Menulis Fiksi

Pada daerah-daerah bertemperatur udara tropis di mana hominid berevolusi menjadi manusia, sayuran adalah makanan utama spesies homo sapiens. Pada zaman Paleolitikum, Neolitikum dan pra-sejarah, manusia mengumpulkan enampuluh lima sampai delapanpuluh persen makanannya dari alam; kecuali di daerah bercuaca ekstrim seperti Arktika sajalah daging menjadi makanan pokok. Gambar para pemburu mamot telah dengan dahsyatnya merayap di dinding-dinding gua dan di pikiran kita, namun yang sesungguhnya pernah kita lakukan untuk tetap hidup dan menjadi gemuk ialah dengan menghimpun biji-bijian, akar, kecambah, tunas, dedaunan, kacang-kacangan, buah beri dan gandum; menangkap serangga dan siput; menjaring atau menjerat burung, ikan, tikus, kelinci dan binatang-binatang kecil tak bertaring lainnya untuk menambah asupan protein. Dan kita bahkan tak perlu bekerja keras untuk itu—yang pernah kita lakukan untuk mencari makan jauh lebih ringan ketimbang buruh tani yang diperbudak di lahan majikannya sejak agrikultur ditemukan, dan jauh lebih enteng ketimbang pekerjaan buruh upahan sejak peradaban ditemukan. Untuk dapat hidup berkecukupan seorang manusia purba rata-rata bekerja sekitar limabelas jam per minggu. Read More

j j j

Pembelaan untuk Citra Rendahan

Citra rendahan adalah sebuah salinan bergerak. Kualitasnya buruk, resolusinya di bawah standar. Ketika ia melaju, ia merosot. Ia adalah hantu dari sebuah citra, sebuah pratayang, sebuah thumbnail, sebuah gagasan tersesat, sebuah citra pengembara yang didistribusikan gratis, diperas melalui koneksi digital yang lambat, dikompresi, direproduksi, dibajak, diremix, sebagaimana disalin dan ditempel ke kanal-kanal distribusi lainnya.

Citra rendahan adalah sebuah rombengan atau bajakan; sebuah AVI atau sebuah JPEG, seorang lumpen proletariat di dalam kelas masyarakat rupa, diperingkat dan dinilai berdasarkan resolusinya. Citra rendahan telah diunggah, diunduh, dibagi, diformat ulang dan disunting kembali. Ia merubah kualitas menjadi aksesibilitas, nilai pamer menjadi nilai kultus, film-film menjadi klip-klip, kontemplasi menjadi pengalihan perhatian. Citra tersebut dibebaskan dari brankas-brankas bioskop dan arsip dan didorong menjadi ketidakpastian digital dengan nilai zatnya sendiri. Citra rendahan cenderung menjadi abstraksi: Ia adalah sebuah gagasan visual di dalam daya tariknya sendiri. Read More

j j j